Pada tanggal 19 - 23 Desember 2019 saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan singkat ke Los Angeles, California, USA. Perjalanan ini adalah perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan sampai dengan tulisan ini dibuat.
Untuk mengoptimalkan perjalanan, saya menuju Los Angeles dari Denpasar menggunakan China Airlines CI-772 rute DPS-TPE berangkat tanggal 19 Desember 2019 jam 15.45, dilanjutkan dengan CI-8 rute TPE-LAX setelah transit kurang lebih 2 jam di Taiwan. Saya tiba di LAX jam 19.55 waktu setempat, masih tanggal 19 Desember, karena terdapat perbedaan waktu 16 jam antara Denpasar (GMT+8) dan Los Angeles (GMT-8).
Perjalanan cukup lancar, apalagi di penerbangan terdapat fasilitas wifi yang bisa digunakan, sehingga sepanjang perjalanan tetap dapat terhubung dengan rekan-rekan yang ada di darat, dan bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan secara daring.
Cuaca di Los Angeles pada bulan Desember agak dingin dengan suhu antara 9 - 20 Celsius. Di Los Angeles saya berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan dari Indonesia, dan mengikuti perayaan Natal bersama Ikatan Mahasiswa Papua di USA bersama dengan delegasi dari Provinsi Papua.
Perjalanan yang cukup singkat, saya pulang tanggal 23 malam dan tiba di Jakarta pada tanggal 25 siang menggunakan American Airlines AA-193 transit Hong Kong dilanjutkan dengan AA-8913 / CX-777 ke Jakarta. Permasalahan yang paling mendasar dalam perjalanan ini adalah adanya jetlag karena perbedaan zona waktu yang cukup jauh. Saya sendiri baru bisa menyesuaikan diri pada hari yang ke-2 baik saat tiba di Los Angeles maupun setelah tiba di tanah air.
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Desember 2019
Kamis, 26 September 2019
Studi Banding Pemda dan Bank Indonesia Elektronifikasi Transaksi Penerimaan dan Belanja Daerah
Sebagai salah satu opisboy yang bertugas membuat analisa sistem, merakit software, ngelap server biar kinclong, sekaligus menjaga data tetap utuh dengan dukungan secangkir kopi ditambah KFC original setiap hari, saya tiba-tiba berkesempatan untuk diajak BI Perwakilan Papua bersama Pemerintah Provinsi Papua dalam studi banding Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia terkait dengan elektronifikasi Transaksi Penerimaan dan Belanja Daerah. Perjalanan ini cukup padat, mulai dari tanggal 23 - 28 September dengan mengambil locus di Bandung dan Jakarta. Kunjungan kami lakukan melalui pertemuan dengan Pemda Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, BI KPW Jawa Barat, Pemerintah DKI Jakarta, Bank Indonesia Pusat.
Dari perjalanan beberapa hari ini ada beberapa yang saya tangkap terkait dengan penerimaan dan belanja daerah. Dari sisi belanja, sebagian besar Pemerintah Daerah telah membuat regulasi agar terjadi pengurangan transaksi tunai dalam proses belanja pemerintah. Semua proses belanja diusahakan melalui transfer ke rekening bank, agar penerima uang dapat memperoleh pembayaran secara akurat dan tercatat ke dalam sistem bank.
Nah, di sisi sebaliknya Pemerintah Daerah mencoba menggenjot pendapatan daerah melalui pembayaran non tunai. Ada beberapa keuntungan jika pembayaran dilakukan secara non tunai.
Untuk pembayaran pajak atau retribusi
Masyarakat mudah membayar kewajiban pajak tanpa harus datang ke loket pelayanan, cukup menggunakan kode bayar dan mentransfer melalui kanal pembayaran yang paling mduah dijangkau (transfer ATM, internet banking, mobile banking, dan pembayaran elektronik lainnya)
Untuk layanan barang dan jasa
Layanan barang dan jasa ini adalah layanan yang diberikan wajib pajak kepada masyarakat, misalnya: hotel, restoran, parkir, reklame, dan jasa lain yang menyebabkan adanya kewajiban pajak yang harus dipungut dan disetor oleh penyedia layanan. Dengan tansaksi non tunai, Pemerintah Daerah dapat mengawasi secara akurat transaksi pendapatan daerah yang sudah diterima oleh wajib pajak, sehingga dapat menentukan jumlah pajak yang harus dibayar secara akurat. Selama ini pembayaran pajak daerah seperti hotel dan restoran menggunakan self assesment, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya pelaporan kewajiban pajak yang tidak sesuai. Jika Pemerintah Daerah menyediakan alat untuk tapping transaksi wajib pajak, tentu akan memerlukan investasi teknologi dan peralatan yang tidak sedikit.
Tantangan Regulasi dalam Elektronifikasi Transaksi
Kalau bicara teknologi pasti tidak ada habisnya, namun kita mau kembali lagi kepada regulasi. Ketika Pemerintah Daerah ingin melakukan elektronifikasi transaksi, maka akan ada banyak aturan yang harus ditaati seperti berikut (urutan tidak mencerminkan prioritas).
Peran Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Adanya disrupsi layanan keuangan konvensional karena munculnya Fintech membuat BPD berada pada posisi sulit. Layanan e-money, e-wallet, P2P lending, dan layanan digital lain di tingkat nasional bisa menekan bisnis Bank Umum secara signifikan. Pada akhirnya, Bank Umum khususnya BUMN akan menekan ke ranah bisnis BPD, yang sudah nyaman mengelola dana kelolaan Pemerintah Daerah. Banyak BUMN yang masuk ke daerah untuk mendapat kue pengelolaan dana APBD. Sementara itu dari bawah, BPD mendapat tekanan dari BPR yang mampu bergerak lebih lincah di kalangan masyarakat tingkat bawah dan menengah.
Tantangan berikutnya adalah jika BPD menjadi biller pajak daerah. BPD harus memiliki sistem pembayaran, di mana transaksi tersebut tentu saja akan menimbulkan biaya baik dari sisi CAPEX maupun OPEX BPD. Hasil dari menyimpan dana kelolaan belum tentu akan bisa menutupi layanan yang diberikan. Biasanya, bank akan mencari penghasilan dalam bentuk fee-based income.
1. Merchant Discount Rate (MDR)
MDR ini tidak diperkenankan dalam proses pembayaran pajak daerah, karena tidak ada satu rupiah pun yang boleh berkurang dari uang yang dibayarkan oleh wajib pajak kepada Pemerintah, sehingga BPD tidak diperkenankan mengambil fee apapun.
2. Fee On Top
Di sini, biller menagih biaya transaksi kepada pembayar pajak, misalnya pajak atau retribusi Rp100.000,00 yang dibayar melalui bank dengan biaya Rp2.500,00 per transaksi, maka total yang dibayarkan oleh wajib pajak adalah Rp.102.500,00. Namun, jika tanpa dasar regulasi yang memadahi, hal ini juga akan menjadi masalah, selain juga akan menyebabkan wajib pajak enggan membayar.
Dalam hal ini, BPD bisa mencari cara untuk memperoleh penghasilan tambahan dari layanan pembayaran non tunai ini. Misal, BPD memberikan kredit kepada wajib pajak yang memiliki transaksi bisnis yang bagus, sehingga memperoleh pendapatan dalam bentuk bunga, atau memberikan layanan tambahan lain yang menambah pendapatan BPD tanpa membebani wajib pajak secara langsung dalam proses pembayaran. Pendapatan tambahan ini yang bisa digunakan untuk menutupi layanan pembayaran pajak dan retribusi non tunai.
"Loophole" Regulasi
Inovasi yang terjadi di dunia keuangan paling sering mendahului regulasi. Untuk orang yang "nekat", mereka akan melakukan suatu kebijakan meskipun secara regulasi belum ada. Misalnya, banyak layanan fintech yang tetap menjalankan bisnisnya, meskipun belum ada regulasi terkait dengan bisnis yang mereka jalankan tersebut. Namun, ada juga inovasi yang mengikuti regulasi yang ada. Terkait inovasi layanan Pemerintah, memang sebaiknya harus mengikuti rambu-rambu yang ada, namun jika ada aksi yang bersifat ragu-ragu, misalnya karena tumpang tindih peraturan, bisa duduk bersama dengan stakeholder untuk memastikan bahwa semua regulasi dalam inovasi tersebut komplian.
Sebelumnya saya pikir ini akan menjadi perjalanan studi banding biasa, namun setelah menjalaninya, ternyata saya menemukan banyak hal yang tidak terduga yang menjadi concern dalam pengembangan Teknologi Informasi, khususnya dalam mendukung Pemerintah Daerah menggenjot pendapatan asli daerah dan juga menjaga agar transaksi pendapatan dan belanja dapat dipertanggungjawabkan dengan benar. Semoga hasil perjalanan ini dapat segera kami eksekusi menjadi inovasi.

Dari perjalanan beberapa hari ini ada beberapa yang saya tangkap terkait dengan penerimaan dan belanja daerah. Dari sisi belanja, sebagian besar Pemerintah Daerah telah membuat regulasi agar terjadi pengurangan transaksi tunai dalam proses belanja pemerintah. Semua proses belanja diusahakan melalui transfer ke rekening bank, agar penerima uang dapat memperoleh pembayaran secara akurat dan tercatat ke dalam sistem bank.
Nah, di sisi sebaliknya Pemerintah Daerah mencoba menggenjot pendapatan daerah melalui pembayaran non tunai. Ada beberapa keuntungan jika pembayaran dilakukan secara non tunai.
Untuk pembayaran pajak atau retribusi
Masyarakat mudah membayar kewajiban pajak tanpa harus datang ke loket pelayanan, cukup menggunakan kode bayar dan mentransfer melalui kanal pembayaran yang paling mduah dijangkau (transfer ATM, internet banking, mobile banking, dan pembayaran elektronik lainnya)
Untuk layanan barang dan jasa
Layanan barang dan jasa ini adalah layanan yang diberikan wajib pajak kepada masyarakat, misalnya: hotel, restoran, parkir, reklame, dan jasa lain yang menyebabkan adanya kewajiban pajak yang harus dipungut dan disetor oleh penyedia layanan. Dengan tansaksi non tunai, Pemerintah Daerah dapat mengawasi secara akurat transaksi pendapatan daerah yang sudah diterima oleh wajib pajak, sehingga dapat menentukan jumlah pajak yang harus dibayar secara akurat. Selama ini pembayaran pajak daerah seperti hotel dan restoran menggunakan self assesment, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya pelaporan kewajiban pajak yang tidak sesuai. Jika Pemerintah Daerah menyediakan alat untuk tapping transaksi wajib pajak, tentu akan memerlukan investasi teknologi dan peralatan yang tidak sedikit.
Tantangan Regulasi dalam Elektronifikasi Transaksi
Kalau bicara teknologi pasti tidak ada habisnya, namun kita mau kembali lagi kepada regulasi. Ketika Pemerintah Daerah ingin melakukan elektronifikasi transaksi, maka akan ada banyak aturan yang harus ditaati seperti berikut (urutan tidak mencerminkan prioritas).
- Peraturan Bank Indonesia
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
- Peraturan terkait Pemerintahan Daerah dan Pengelolaan Keuangan Daerah
- Peraturan terkait Sistem Pemerintahan berbasis Elektronik (SPBE)
- PCI Council (terkait pembayaran dengan kartu)
- Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah setempat
Peran Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Adanya disrupsi layanan keuangan konvensional karena munculnya Fintech membuat BPD berada pada posisi sulit. Layanan e-money, e-wallet, P2P lending, dan layanan digital lain di tingkat nasional bisa menekan bisnis Bank Umum secara signifikan. Pada akhirnya, Bank Umum khususnya BUMN akan menekan ke ranah bisnis BPD, yang sudah nyaman mengelola dana kelolaan Pemerintah Daerah. Banyak BUMN yang masuk ke daerah untuk mendapat kue pengelolaan dana APBD. Sementara itu dari bawah, BPD mendapat tekanan dari BPR yang mampu bergerak lebih lincah di kalangan masyarakat tingkat bawah dan menengah.
Tantangan berikutnya adalah jika BPD menjadi biller pajak daerah. BPD harus memiliki sistem pembayaran, di mana transaksi tersebut tentu saja akan menimbulkan biaya baik dari sisi CAPEX maupun OPEX BPD. Hasil dari menyimpan dana kelolaan belum tentu akan bisa menutupi layanan yang diberikan. Biasanya, bank akan mencari penghasilan dalam bentuk fee-based income.
1. Merchant Discount Rate (MDR)
MDR ini tidak diperkenankan dalam proses pembayaran pajak daerah, karena tidak ada satu rupiah pun yang boleh berkurang dari uang yang dibayarkan oleh wajib pajak kepada Pemerintah, sehingga BPD tidak diperkenankan mengambil fee apapun.
2. Fee On Top
Di sini, biller menagih biaya transaksi kepada pembayar pajak, misalnya pajak atau retribusi Rp100.000,00 yang dibayar melalui bank dengan biaya Rp2.500,00 per transaksi, maka total yang dibayarkan oleh wajib pajak adalah Rp.102.500,00. Namun, jika tanpa dasar regulasi yang memadahi, hal ini juga akan menjadi masalah, selain juga akan menyebabkan wajib pajak enggan membayar.
Dalam hal ini, BPD bisa mencari cara untuk memperoleh penghasilan tambahan dari layanan pembayaran non tunai ini. Misal, BPD memberikan kredit kepada wajib pajak yang memiliki transaksi bisnis yang bagus, sehingga memperoleh pendapatan dalam bentuk bunga, atau memberikan layanan tambahan lain yang menambah pendapatan BPD tanpa membebani wajib pajak secara langsung dalam proses pembayaran. Pendapatan tambahan ini yang bisa digunakan untuk menutupi layanan pembayaran pajak dan retribusi non tunai.
"Loophole" Regulasi
Inovasi yang terjadi di dunia keuangan paling sering mendahului regulasi. Untuk orang yang "nekat", mereka akan melakukan suatu kebijakan meskipun secara regulasi belum ada. Misalnya, banyak layanan fintech yang tetap menjalankan bisnisnya, meskipun belum ada regulasi terkait dengan bisnis yang mereka jalankan tersebut. Namun, ada juga inovasi yang mengikuti regulasi yang ada. Terkait inovasi layanan Pemerintah, memang sebaiknya harus mengikuti rambu-rambu yang ada, namun jika ada aksi yang bersifat ragu-ragu, misalnya karena tumpang tindih peraturan, bisa duduk bersama dengan stakeholder untuk memastikan bahwa semua regulasi dalam inovasi tersebut komplian.
Sebelumnya saya pikir ini akan menjadi perjalanan studi banding biasa, namun setelah menjalaninya, ternyata saya menemukan banyak hal yang tidak terduga yang menjadi concern dalam pengembangan Teknologi Informasi, khususnya dalam mendukung Pemerintah Daerah menggenjot pendapatan asli daerah dan juga menjaga agar transaksi pendapatan dan belanja dapat dipertanggungjawabkan dengan benar. Semoga hasil perjalanan ini dapat segera kami eksekusi menjadi inovasi.
Sabtu, 03 November 2018
Perjalanan ke Distrik Tiom di Kabupaten Lanny Jaya

Perjalanan ke Tiom dapat ditempuh dengan menggunakan moda transportasi darat dari Wamena, dengan lama perjalanan antara 2 - 3 jam. Kunjungan saya dan rombongan dari Provinsi Papua ke Tiom bukanlah dari Wamena, namun dari Karubaga, sehingga kami tidak melewati Wamena. Dari arah Karubaga ke arah Wamena selama sekitar 2 jam, kami tiba di Bolakme, dan berbelok ke kanan kurang lebih 30 menit menuju ke Pyramid, lalu belok kanan lagi menuju ke Makki, lalu menempuh sekitar 90 menit perjalanan lagi sampai ke Tiom.
Pemerintah setempat menetapkan retribusi masuk ke Lanny Jaya dengan menggunakan Peraturan Bupati nomor 32 tahun 2015 tentang Pungutan Tarif Retribusi Kendaraan Umum dan Parkiran di Lingkungan Kabupaten Lanny Jaya. Adapun tarif bagi kendaraan roda 4 yang kami naiki adalah sebesar Rp.50.000. Retribusi ini dibayar sekitar 1 jam sebelum masuk ke Tiom.
Kondisi tanah di Tiom didominasi oleh bukit dan sungai dengan tanah berwarna merah, dengan kontur cukup lunak. Hal ini mengakibatkan beberapa pembangunan gedung dengan menggunakan bahan semen dan batu mengalami beberapa permasalahan pada pondasi, karena sering terjadi pergeseran tanah, apalagi jika terjadi gempa. Salah satu solusi yang diambil oleh pemerintah setempat adalah dengan membangun talud. Dibandingkan dengan kabupaten pemekaran lainnya di Pegunungan Tengah Papua, tata kota Tiom cenderung rapi.
Di Tiom tidak ada hotel atau penginapan yang bisa disewa harian. Mungkin ada beberapa, namun selalu penuh, karena permasalahannya adalah pada kondisi suplai kamar yang tersedia tidak bisa memenuhi permintaan yang lebih besar, bahkan untuk pegawai negeri yang bekerja di daerah ini. Bagi tamu yang datang dengan keperluan dinas, maka bisa berkoordinasi dengan Pemda Lanny Jaya untuk dapat tinggal di guest house milik Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya. Dari informasi yang saya dengar, Pemerintah Kabuopaten Lanny Jaya sedang membangun hotel, yang pengelolaannya akan dikerjasamakan dengan hotel chain tingkat nasional.
Di sisi keamanan, daerah Tiom ini merupakan daerah merah, di mana ada Kelompok Krimimal Bersenjata (KKB) yang terkadang melakukan kontak senjata dengan aparat keamanan. Hal ini sempat terjadi beberapa jam sesudah kami meninggalkan Tiom menuju ke Wamena, 2 Nopember 2018 kemarin.
Jumat, 02 November 2018
Perjalanan Menuju ke Karubaga Kabupaten Tolikara

Kabupaten Tolikara adalah kabupaten yang terletak di pegunungan tengah Papua. Secara normal, kabupaten ini bisa ditempuh dengan menggunakan perjalanan darat dari Wamena, kabupaten Jayawijaya. Meskipun secara teknis jalan darat yang menghubungkan Jayapura ke Wamena sudah tersambung, namun jalan tersebut secara resmi belum boleh untuk dilewati, sehingga berjalan ke Wamena masih ditempuh dengan menggunakan moda transportasi udara.
Sesudah tiba tiba Wamena, kami menggunakan kendaraan umum sejenis Mitsubishi Strada Triton di pangkalan atau terminal di dekat bandara. Biaya reguler untuk tiap penumpang adalah Rp.250.000 sampai dengan Rp.350.000 tergantung kita mau duduk di kabin depan atau duduk di bak belakang. Apabila menginginkan privasi, kita bisa membayar charter mobil tersebut dengan biaya 2,5jt sampai dengan 3jt tergantung negoisasi dengan supir. Perjalanan dari Wamena ke Karubaga akan memerlukan waktu sekitar tiga sampai empat jam melewati lembah, bukit, gunung.
Kondisi jalan sebagian saya sudah beraspal, namun juga banyak yang masih berupa tanah yang dipadatkan dengan batu-batu. Saya menyarankan agar membawa bekal berupa nasi bungkus, air mineral, dan makanan ringan secukupnya, agar ditengah perjalanan bisa berhenti untuk makan. Selain itu untuk jaga jaga apabila ada permasalan teknis dan kendaraan sehingga harus melakukan perbaikan ditengah jalan yang memakan waktu agak lama, seperti yang sudah pernah saya alami beberapa kali dalam perjalanan di wilayah pegunungan Tengah Papua.

Akan lebih baik juga jika membawa perangkat telekomunikasi berupa telepon satelit, karena tidak semua daerah yang dilalui terdapat sinyal seluler. Namun jika tidak membawa telepon satelit, tidak terlalu bermasalah karena tiap beberapa menit akan ada kendaraan lain yang melintas apabila terjadi permasalahan ditengah perjalanan, karena rute tersebut cukup ramai. Yang penting perjalanan dilakukan pada siang hari. Kendala kendala yang perlu diantisipasi adalah kondisi cuaca. Apabila kondisi cuaca gerimis atau hujan, maka jalan akan diselimuti dengan kabut tebal, yang bisa mengakibatkan jarak pandang terhadap jalan sangat pendek antara 5 sampai 10 meter saja.
Untuk Akomodasi atau penginapan di Tolikara, sebenarnya pemerintah daerah setempat sudah memiliki penginapan yaitu hotel Tolikara. Namun karena rusaknya kantor Bupati, maka untuk sementara hutang tersebut digunakan sebagai kantor Bupati Tolikara. Sebagai alternatif, di daerah dekat bandara ada penginapan yang bisa disewa harian, salah satunya adalah Penginapan Dewanti, yang dimiliki oleh pensiunan guru di Tolikara, yang suka sempat menjadi pejabat di daerah tersebut. Tarif per malam bervariasi antara 1,3 sampai 1,5 juta Rupiah tergantung jenis kamar. Penginapan ini lebih masuk ke dalam kelas guest house. Tamu akan mendapatkan fasilitas kamar dan juga memperoleh makan pagi dan makan malam. Tidak ada air panas, terdapat 2 kamar mandi yang digunakan bersama-sama oleh semua tamu, dengan jenis kloset jongkok.

Bagi yang ingin tinggal dalam jangka yang lebih lama di Tolikara, dapat menyewa rumah kos, dengan tarif 1,5 s.d 3 juta Rupiah per bulan. Ada juga yang menyewakan kamar kos dengan tarif 100.000 sampai dengan 200.000 per hari. Untuk memperoleh informasi kamar kos yang disewakan ini, bisa bertanya kepada para pedagang di pasar, tukang ojek, atau pegawai setempat.
Jumat, 03 Agustus 2018
Mencari Penerbangan ke Kabupaten Waropen

Mengunjungi Kabupaten Waropen memiliki tantangan tersendiri, karena tidak ada transportasi langsung baik darat, laut maupun udara dari ibukota Provinsi (Kota Jayapura) ke Waropen. Pengunjung harus transit melalui daerah lain seperti Biak, Nabire, dan Serui. Saat ini, Kabupaten Waropen memiliki bandara sepanjang 600 meter yang terletak di Botawa. Dengan panjang landasan yang terbatas ini, maka hanya pesawat kecil saja yang bisa mendarat di bandara ini.
Penerbangan ke Waropen dilayani dari Nabire dan dari Biak. Untuk penerbangan dari Nabire merupakan penerbangan subsidi dari Pemerintah yang pada tahun 2018 dilaksanakan dalam bentuk kerjasama dengan Dimonim Air dengan pesawat Twin Otter, dengan frekuensi 1 minggu sekali. Sementara itu, penerbangan dari Biak dapat ditempuh dengan menggunakan Susi Air, namun tidak memiliki jadwal yang tetap.
Solusi paling cepat untuk menuju Waropen adalah dengan menggunakan transportasi laut dari Serui dan Biak. Ada kapal cepat dari Biak dengan frekuensi 3 kali seminggu, sedangkan dari Serui setiap hari ada kapal maupun speedboat, baik yang reguler maupun yang dapat disewa (charter). Sebagai catatan, jika waktu bukan menjadi hal yang penting, maka bisa menggunakan kapal Pelni dari Jayapura ke Serui dengan biaya Rp.200 ribuan per orang dengan waktu tempuh sekitar 30 jam.
Pada tanggal 1 Juli 2018 yang lalu saya beserta tim melakukan perjalanan ke Waropen dari Jayapura. Kami naik pesawat Trigana Air IL-291 pukul 06.30 WIT dari Sentani (DJJ) dengan harga Rp.1,6 juta untuk penerbangan selama 1 jam 20 menit. Kami tiba di bandara Serui (ZRI) pada pukul 8.30 WIT, dilanjutkan dengan sewa mobil dari bandara ke kota yang ditempuh dalam wakyu 45 menit.
Di pelabuhan, kita bisa menyewa speedboat dengan waktu tempuh 45 menit dengan harga sewa Rp.1,2 - 1,5 juta atau kalau mau menunggu penumpang lain, bisa patungan Rp.150 - 250 ribu per orang. Selain speedboat, ada kapal kayu dengan biaya Rp.100 ribu per orang dengan waktu tempuh 2,5 - 3 jam tergantung cuaca. Kami akhirnya naik kapal kayu ini, karena pada hari minggu speedboat yang beroperasi sangat sedikit karena sebagian besar para motoristnya pulang ke kampung untuk ke gereja. Kami berangkat pukul 12.30 WIT dan tiba pukul 15.00 WIT di pelabuhan Waren.
Keluar dari pelabuhan Waren, kami belok kiri sejauh beberapa ratus meter dan tiba di Hotel Merpati Urfas Waropen untuk menginap, karena di Waropen hanya ada 2 penginapan, yaitu Hotel Merpati dan Hotel Kanaan. Hotel Merpati cukup nyaman karena memiliki pendingin udara dan juga air panas, serta TV kabel. Selain itu, di kompleks hotel terdapat mini market dan tempat makan.
Minggu, 04 Maret 2018
Family Toilet di Tempat Umum di Indonesia
Family toilet atau toilet untuk keluarga merupakan hal yang lazim di di Jepang. Namun demikian, toilet jenis ini jarang ditemukan di tempat umum di Indonesia. Salah satu tempat umum yang memiliki toilet keluarga yang saya ketahui sejauh ini adalah Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, Bali.
Sambil menunggu keberangkatan saya ke Jayapura dengan GA-652, saya mencoba merenungkan sendiri beberapa manfaat yang menurut saya dapat diperoleh dari toilet keluarga ini.
1. Keamanan
Di tempat umum, apabila kita membawa dan menjaga anak kecil, padahal di waktu yang sama kita merasakan panggilan alam untuk segera ke toilet, maka keberadaan toilet ini sangat penting karena kita tetap bisa melakukan hak dan kewajiban kita tanpa meninggalkan anak-anak tanpa dijaga. Di toilet keluarga terdapat kursi duduk untuk anak-anak yang bisa dilipat.
2. Kebersamaan
Keluarga yang hidupnya bersama-sama, biasanya akan memiliki pola makan yang mirip dan tentu saja jam biologis yang mirip, sampai dengan waktu untuk membersihkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh. Dengan demikian, toilet keluarga bermanfaat jika ingin bersama-sama melakukan ekskresi sisa makanan maupun sisa hasil metabolisme dari tubuh.
3. Komunikasi
Jika banyak keluarga melakukan komunikasi dan diskusi di meja makan, apa salahnya jika komunikasi juga dilakukan saat di toilet. Bahkan, saya menduga banyak ide-ide besar yang muncul dari orang-orang hebat yang muncul ketika sedang merenung di toilet. Sayangnya, banyak juga ide itu kemudian hilang sesudah keluar dari toilet. Dengan komunikasi, ide itu dapat dibagi ketika sama-sama dengan berada di toilet.
4. Luas dan Lega
Bagi orang yang memiliki ketakutan dengan tempat sempit atau claustrophobia dapat memanfaatkan toilet keluarga ini, karena ruangannya cukup luas.
Sambil menunggu keberangkatan saya ke Jayapura dengan GA-652, saya mencoba merenungkan sendiri beberapa manfaat yang menurut saya dapat diperoleh dari toilet keluarga ini.
1. Keamanan
Di tempat umum, apabila kita membawa dan menjaga anak kecil, padahal di waktu yang sama kita merasakan panggilan alam untuk segera ke toilet, maka keberadaan toilet ini sangat penting karena kita tetap bisa melakukan hak dan kewajiban kita tanpa meninggalkan anak-anak tanpa dijaga. Di toilet keluarga terdapat kursi duduk untuk anak-anak yang bisa dilipat.
2. Kebersamaan
Keluarga yang hidupnya bersama-sama, biasanya akan memiliki pola makan yang mirip dan tentu saja jam biologis yang mirip, sampai dengan waktu untuk membersihkan sisa makanan yang tidak terserap oleh tubuh. Dengan demikian, toilet keluarga bermanfaat jika ingin bersama-sama melakukan ekskresi sisa makanan maupun sisa hasil metabolisme dari tubuh.
3. Komunikasi
Jika banyak keluarga melakukan komunikasi dan diskusi di meja makan, apa salahnya jika komunikasi juga dilakukan saat di toilet. Bahkan, saya menduga banyak ide-ide besar yang muncul dari orang-orang hebat yang muncul ketika sedang merenung di toilet. Sayangnya, banyak juga ide itu kemudian hilang sesudah keluar dari toilet. Dengan komunikasi, ide itu dapat dibagi ketika sama-sama dengan berada di toilet.
4. Luas dan Lega
Bagi orang yang memiliki ketakutan dengan tempat sempit atau claustrophobia dapat memanfaatkan toilet keluarga ini, karena ruangannya cukup luas.
Minggu, 17 September 2017
Konsumsi BBM Honda Brio RS 1.2 CVT 2017 di Yogyakarta
Besar konsumsi BBM biasanya menjadi salah satu faktor dalam menentukan jenis kendaraan yang akan dipakai sehari-hari. Hal ini tentu saja akan dikecualikan untuk kendaraan yang dikoleksi untuk sekedar hobi atau gaya.
Kali ini saya mencoba membuat kalkulasi mengenai konsumsi bahan bakar Brio RS 1.2 CVT keluaran tahun 2017. Cara yang digunakan cukup sederhana, yaitu pada awal perhitungan, bensin diisi penuh, kemudian trip pada odometer direset kembali ke nol. Kendaraan kemudian dipakai secara normal, untuk antar jemput sekolah, pergi ke kantor dan aktivitas dalam kota lainnya, dengan kondisi trafik area Sleman dan Kota Yogyakarta yang kadang macet, kadang lancar.
Sesudah jarum penanda BBM tinggal 1 strip, dilakukan kembali pengisian full tank di SPBU dan mesin pompa yang sama, yaitu di SPBU 4455519 Mlati, Sleman. Hasilnya, untuk pemakaian sejauh 430.1 km sesuai dengan yang ditunjukkan odometer, Honda Brio RS dengan transmisi CVT menghabiskan BBM sebanyak 29,54 liter Pertamax 92 atau 14,56 km/liter atau Rp.566,62/km.
Kendaraan ini melakukan pencatatan juga di odometernya dan menampilkan di display bahwa estimasi konsumsi bahan bakar rata-rata di 15,5 km/liter, atau selisih mendekati 1 km/liter dibandingkan penghitungan konvensional yang saya lakukan. Namun setidaknya hal ini bisa menjadi salah satu acuan bagi para calon pemilik mobil dalam memilih mobil mana yang akan digunakan untuk operasional sehari-hari.
Kali ini saya mencoba membuat kalkulasi mengenai konsumsi bahan bakar Brio RS 1.2 CVT keluaran tahun 2017. Cara yang digunakan cukup sederhana, yaitu pada awal perhitungan, bensin diisi penuh, kemudian trip pada odometer direset kembali ke nol. Kendaraan kemudian dipakai secara normal, untuk antar jemput sekolah, pergi ke kantor dan aktivitas dalam kota lainnya, dengan kondisi trafik area Sleman dan Kota Yogyakarta yang kadang macet, kadang lancar.
Sesudah jarum penanda BBM tinggal 1 strip, dilakukan kembali pengisian full tank di SPBU dan mesin pompa yang sama, yaitu di SPBU 4455519 Mlati, Sleman. Hasilnya, untuk pemakaian sejauh 430.1 km sesuai dengan yang ditunjukkan odometer, Honda Brio RS dengan transmisi CVT menghabiskan BBM sebanyak 29,54 liter Pertamax 92 atau 14,56 km/liter atau Rp.566,62/km.
Kendaraan ini melakukan pencatatan juga di odometernya dan menampilkan di display bahwa estimasi konsumsi bahan bakar rata-rata di 15,5 km/liter, atau selisih mendekati 1 km/liter dibandingkan penghitungan konvensional yang saya lakukan. Namun setidaknya hal ini bisa menjadi salah satu acuan bagi para calon pemilik mobil dalam memilih mobil mana yang akan digunakan untuk operasional sehari-hari.
Jumat, 19 Mei 2017
Perjalanan Ke Pulau Numfor Kabupaten Biak
Pulau Numfor adalah sebuah pulau yang terletak di barat pulau Biak Provinsi Papua. Pulau ini bisa ditempuh dari Biak dengan menggunakan speed boat selama 4 jam atau dengan pesawat Grand Caravan selama kurang lebih 40 menit.
Secara geografis, pulau Numfor lebih dekat ke Manokwari di Papua Barat. Itulah sebabnya sebagian kecil masyarakat di sini sempat mengusulkan agar pulau ini bergabung ke Papua Barat. Konon cerita mop (kelakar) masyarakat sini, pada jaman dahulu penentuan Pulau Numfor ikut Manokwari atau Biak ditentukan dengan pertandingan bola kaki (sepak bola), yang saat itu dimenangkan Biak, sehingga Pulau Numfor ikut Biak sampai dengan saat ini. Saat ini, Numfor sedang mengajukan untuk menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) setingkat kabupaten, namun karena masih ada moratorium pembentukan daerah baru dari Pemerintah Pusat, maka keinginan adanya DOB ini belum bisa terwujud.
Pada hari Kamis, 19 Mei 2017, saya berkesempatan mengikuti rombongan Gubernur Papua untuk melakukan kunjungan ke Pulau Numfor. Sama dengan Biak yang merupakan pulau karang, suhu di Pulau Numfor juga panas menyengat. Dalam kunjungan yang berdurasi 6 jam ini kami meninjau pembangunan PLTD di Numfor agar masyarakat bisa menikmati listrik selama 24 jam. Kami juga mengikuti peresmian RSUD tipe D yang diberi nama "Lukas Enembe" di Numfor.
Perjalanan singkat ini membawa kesan tersendiri karena saya belum pernah ke Numfor. Rombongan pun akhirnya pulang ke Biak pada pukul 15.00 WIT.
Rabu, 31 Agustus 2016
Menghitung Emisi Karbon dalam Transportasi Menggunakan Pesawat Terbang
Dalam perjalanan dari Surabaya ke Jayapura 30/8 kemarin, saya mengisi waktu dengan membaca teks yang ada di dalam tiket yang saya pegang. Selain harga tiket, di situ tercatat jumlah perkiraan emisi karbon menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-630 Bombardier CRJ-1000 per orang dalam perjalanan ini yaitu 256,69 kg per orang.
Berikut ini adalah simulasi yang saya gunakan dari website ICAO.
Perjalanan menggunakan kendaraan dengan combustion engine (baca: mesin dengan bahan bakar hidrokarbon) adalah perjalanan yang menghamburkan emisi karbon. Katakanlah kita menanam pohon yang cukup besar untuk menampung karbondioksida yang kita buang ke alam dengan kapasitas serap 100 kg per tahun, maka dalam sekali perjalanan, saya harus menanam setidaknya 2-3 pohon agar siklus karbon di alam menjadi impas. Jika dalam 1 tahun saya melakukan perjalanan yang sama sebanyak 12 kali, bisa dipastikan saya wajib memiliki lahan yang cukup luas hanya untuk menampung pohon-pohon yang harus saya tanam.
Saya pernah punya pemikiran yaitu bagaimana jika ijin kepemilikan kendaraan bermotor, selain wajib memiliki garasi untuk tempat parkir, maka wajib juga untuk menanam pohon sesuai dengan emisi karbon yang akan dibuang oleh kendaraan tersebut. Jadi, jika tidak punya pohon untuk membantu menormalkan siklus karbon di alam, maka ijin kepemilikan kendaran bermotor tidak diberikan.
Selasa, 16 Agustus 2016
Strategi Memperoleh Tiket Murah ke Papua di Masa Sulit
Dalam beberapa minggu terakhir, banyak rekan-rekan yang berasal dari Papua mengeluhkan mengenai ketidaktersediaan tiket pesawat ke Jayapura. Kalau ada, harganya menjadi sangat melambung dan terasa tidak masuk di akal.
Sebelum kita meluncur ke masalah strategi, mari kita bahas mengenai kelas pada tiket pesawat. Beberapa orang mengetahui bahwa pesawat terdiri dari kelas Ekonomi, Bisnis, dan First Class. Untuk yang terakhir ini tidak saya bahas karena tidak tersedia dalam penerbangan ke Jayapura. Perlu dicatat bahwa apa yang saya bahas ini bukan merupakan ilmu yang diperoleh dari dalam maskapai, namun semacam reverse engineering dari sisi saya sebagai pengguna jasa penerbangan.
Sebelum kita meluncur ke masalah strategi, mari kita bahas mengenai kelas pada tiket pesawat. Beberapa orang mengetahui bahwa pesawat terdiri dari kelas Ekonomi, Bisnis, dan First Class. Untuk yang terakhir ini tidak saya bahas karena tidak tersedia dalam penerbangan ke Jayapura. Perlu dicatat bahwa apa yang saya bahas ini bukan merupakan ilmu yang diperoleh dari dalam maskapai, namun semacam reverse engineering dari sisi saya sebagai pengguna jasa penerbangan.
Rabu, 29 Juni 2016
Mencari Jasa Laundry Kiloan di Bangkok
Perjalanan keliling sebagian Asia Tenggara seminggu yang lalu memberikan tantangan tersendiri, terutama mengenai bekal yang perlu dibawa untuk keperluan perjalanan. Idealnya, barang yang dibawa haruslah selengkap mungkin, namun juga batasannya adalah kepraktisan dalam berpindah tempat. Barang yang lengkap akan memerlukan ukuran koper yang besar, dan tentu saja akan memberatkan dalam mengangkut ke sana kemari. Kami membatasi bawaan dengan koper dengan ukuran kecil.
Standar perjalanan kami yaitu membawa pakaian secukupnya untuk keperluan 3 - 4 hari, dengan asumsi seperti waktu di Hong Kong, kami memasrahkan baju untuk dicuci di laundry kiloan. Untuk Sio yang masih bayi, kami mencoba menghitung jumlah susu dan diapers dengan seakurat mungkin untuk keperluan 6 hari 5 malam.
Di Singapura, banyak layanan laundry DIY (do it yourself) di mana kita tinggal memasukkan koin uang SGD dan mesin cuci berjalan secara otomatis dan pakaian selesai dengan kering. Karena terlena dengan jalan-jalan di luar, akhirnya selama 3 hari 2 malam itu kami tidak mencuci baju di Singapura, padahal tempatnya hanya 300 meter dari hotel.
Untuk alas kaki, saya tidak membawa sandal, dan mempercayakan pada salah satu model sepatu North Star dari Bata yang tipis dan sirkulasi udaranya bagus, sehingga lebih aman dari bau. Intinya, kami mencoba membawa barang yang benar-benar diperlukan saja, dan menyisihkan barang yang sudah ada substitusinya, seperti mengenai memilih salah satu antara sandal dan sepatu tadi.
Kembali kepada pakaian, di Bangkok selama 4 hari 3 malam itu kami berpindah hotel setiap malam, dan selalu tiba malam karena mengikuti tur yang sudah dijadwalkan. Di sore hari pertama tiba di Bangkok, saya keliling di dekat hotel dan mendapati banyak laundry kiloan, namun apa dikata, kalau malam mereka sudah tutup, dan kemungkinan kecil mereka mau lembur untuk bisa diambil pagi sebelum jam 6, karena jam 7 kami sudah dijemput bus untuk menuju ke tempat-tempat wisata. Di hotel, staf yang standby tidak lebih dari 10 orang saja, mulai dari security, bell boy, resepsionis, dan room service. Petugas laundry juga diketahui sudah kembali ke rumah masuk ke dalam peraduan mimpinya. Selain itu, laundry di hotel menerapkan biaya yang nyaris sama dan bahkan lebih mahal dengan harga kaos dan celana yang mau dicuci ;)
Solusinya? Lari ke 7 Eleven beli Rinso (saya yakin saja namanya Rinso, karena bungkusnya persis, hanya tulisannya menggunakan aksara Thailand, aromanya khas dan sama-sama produksi Unilever). Pakaian direndam dan dikucek pakai air panas dari wastafel di kamar mandi hotel. Ini dia penampakannya.
Tinggal peras sampai bersih, dan di 'spin' menggunakan tangan dengan kecepatan layaknya latihan kung fu, maka baju menjadi setengah kering dan tinggal diangin-anginkan setengah malam di keringnya angin dari AC kamar hotel. Paginya, baju sudah siap untuk diseterika dan dipakai kembali. Tips lain yang bisa dilakukan adalah jika di hotel ada kulkas mini, taruh saja di belakangnya, maka akan lebih cepat kering karena hangat. Dalam rangkaian perjalanan ini, saya sempat menganginkan cucian kaos kaki di Singapura dengan hairdryer yang ada di hotel dan berhasil kering dalam waktu kurang dari 3 menit.
Demikianlah penyelesaian atas petualangan kami mencari jasa laundry kiloan di Bangkok yang mungkin bisa diterapkan juga di tempat lain dalam keadaan darurat.
Standar perjalanan kami yaitu membawa pakaian secukupnya untuk keperluan 3 - 4 hari, dengan asumsi seperti waktu di Hong Kong, kami memasrahkan baju untuk dicuci di laundry kiloan. Untuk Sio yang masih bayi, kami mencoba menghitung jumlah susu dan diapers dengan seakurat mungkin untuk keperluan 6 hari 5 malam.
Di Singapura, banyak layanan laundry DIY (do it yourself) di mana kita tinggal memasukkan koin uang SGD dan mesin cuci berjalan secara otomatis dan pakaian selesai dengan kering. Karena terlena dengan jalan-jalan di luar, akhirnya selama 3 hari 2 malam itu kami tidak mencuci baju di Singapura, padahal tempatnya hanya 300 meter dari hotel.
Untuk alas kaki, saya tidak membawa sandal, dan mempercayakan pada salah satu model sepatu North Star dari Bata yang tipis dan sirkulasi udaranya bagus, sehingga lebih aman dari bau. Intinya, kami mencoba membawa barang yang benar-benar diperlukan saja, dan menyisihkan barang yang sudah ada substitusinya, seperti mengenai memilih salah satu antara sandal dan sepatu tadi.
Kembali kepada pakaian, di Bangkok selama 4 hari 3 malam itu kami berpindah hotel setiap malam, dan selalu tiba malam karena mengikuti tur yang sudah dijadwalkan. Di sore hari pertama tiba di Bangkok, saya keliling di dekat hotel dan mendapati banyak laundry kiloan, namun apa dikata, kalau malam mereka sudah tutup, dan kemungkinan kecil mereka mau lembur untuk bisa diambil pagi sebelum jam 6, karena jam 7 kami sudah dijemput bus untuk menuju ke tempat-tempat wisata. Di hotel, staf yang standby tidak lebih dari 10 orang saja, mulai dari security, bell boy, resepsionis, dan room service. Petugas laundry juga diketahui sudah kembali ke rumah masuk ke dalam peraduan mimpinya. Selain itu, laundry di hotel menerapkan biaya yang nyaris sama dan bahkan lebih mahal dengan harga kaos dan celana yang mau dicuci ;)
Solusinya? Lari ke 7 Eleven beli Rinso (saya yakin saja namanya Rinso, karena bungkusnya persis, hanya tulisannya menggunakan aksara Thailand, aromanya khas dan sama-sama produksi Unilever). Pakaian direndam dan dikucek pakai air panas dari wastafel di kamar mandi hotel. Ini dia penampakannya.
Tinggal peras sampai bersih, dan di 'spin' menggunakan tangan dengan kecepatan layaknya latihan kung fu, maka baju menjadi setengah kering dan tinggal diangin-anginkan setengah malam di keringnya angin dari AC kamar hotel. Paginya, baju sudah siap untuk diseterika dan dipakai kembali. Tips lain yang bisa dilakukan adalah jika di hotel ada kulkas mini, taruh saja di belakangnya, maka akan lebih cepat kering karena hangat. Dalam rangkaian perjalanan ini, saya sempat menganginkan cucian kaos kaki di Singapura dengan hairdryer yang ada di hotel dan berhasil kering dalam waktu kurang dari 3 menit.
Demikianlah penyelesaian atas petualangan kami mencari jasa laundry kiloan di Bangkok yang mungkin bisa diterapkan juga di tempat lain dalam keadaan darurat.
Jalan-Jalan Wisata ke Johor Bahru di Malaysia, Singapura, dan Bangkok-Pattaya di Thailand
Sebenarnya, pengalaman ke Malaysia dan Singapura bukan merupakan pengalaman baru, karena kami sudah mengunjungi beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya, baik dalam rangka sekedar jalan-jalan, maupun keperluan bisnis. Tahun 2010 yang lalu saya juga sempat melakukan perjalanan ke Thailand.
Nah, dimulai dari awal, kami sejatinya ingin pergi ke Bangkok sekeluarga berempat (2 dewasa 1 anak dan 1 bayi) untuk sekedar mengurangkan jatah miles Garuda yang mau expire, karena aturan baru dari Garuda Miles, mileage akan kadaluarsa jika tidak dipakai selama 3 tahun. Nah, selama 3 tahun ini saya belum pernah menebus award ticket dari Garuda. Berdasarkan hitungan, jumlahnya cukup untuk PP 3 orang dengan rute Jakarta (CGK) - Bangkok (BKK), jadi tinggal memikirkan Yogyakarta (JOG) - Jakarta (CGK) PP. Nah, karena rencana ini terpapar ke keluarga, jadilah orang tua dan adik-adik ingin ikut dengan biaya sendiri. Karena mileage tidak cukup untuk bertujuh, akhirnya kami mencari maskapai low cost, dengan permintaan agar bisa mengunjungi Singapura, karena mereka belum pernah ke sana.
Setelah kutak katik rute, kami mencoba untuk mengambil rute Jogja-Singapura-Bangkok-Jakarta-Jogja. Ternyata, harga tiket dari Jogja ke Singapura hari itu di atas 1 juta rupiah. Padahal, biasanya tiket promo berada di antara 400 - 700 ribu rupiah. Ternyata, tanpa sengaja, pada hari yang sama kami dapat info bahwa tiket dari Jogja ke Johor Bahru baru sedang promo, dan kami mendapatkan di harga 269 ribu per kursi, belum termasuk pemilihan kursi, bagasi dan makanan. Bagasi juga beli secukupnya, dan untuk makanan tidak diperlukan karena memasuki bulan Ramadan dan kami juga sudah makan siang. Setelah mencari berbagai kombinasi biaya paling murah, rutenya kemudian berubah menjadi Jogja - Johor Bahru. Singapura - Bangkok BKK, Bangkok DMK - Jakarta, dan Jakarta - Jogja.
Nah, sharing pengalaman perjalanan yang ingin saya ceritakan kurang lebih adalah seperti ini:
- Perjalanan Yogyakarta - Johor Bahru - Singapura
- Pengalaman Menginap di V-Hotel Lavender Singapura
- Paket tur setengah hari keliling Singapura; Merlion Park, Chinatown, Little India
- Pertunjukan Wonder Full - Light & Water Show Singapura
- Perjalanan ke Bangkok: Dynasty Hotel Bangkok
- Menyusuri Sungai Chao Phraya, mengunjungi Wat Traimit dan Wat Arun
- Big Bee Farm Pattaya, Pantai Pattaya dan Art In Paradise
- Gems Gallery Pattaya dan Nong Nooch Village
- Floating Market Pattaya dan Silver Lake
- Nanta Show Bangkok
- Perjalanan Bangkok Don Mueang - Jakarta - Jogja
Perjalanan Bangkok Don Mueang - Jakarta - Jogja
Karena tema dari perjalanan ini adalah budget travel alias perjalanan hemat, maka kami membeli tiket dengan rute putus. Artinya antar penerbangan tidak tersambung, tentu saja dengan resiko jika ada hambatan di penerbangan sebelumnya, maka akan bisa berdampak pada resiko tertinggal penerbangan berikutnya tanpa ada kompensasi dari maskapai sebelumnya. Faktor lainnya adalah, maskapai low cost tidak banyak yang menyediakan tiket connecting dengan ketibaan pada hari yang sama. Entah bagaimana, jika kita mengambil tiket connecting, mereka seolah 'memaksa' kita untuk menginap setidaknya semalam di kota transit, entah di Singapura, Kuala Lumpur, atau Jakarta. Artinya, jika harus menginap akan menambah biaya hotel. Kalau, tidak sedang bersama anak-anak, mungkin tidur di bandara adalah pilihan hemat yang bisa diambil.
Penerbangan kami adalah Indonesia Air Asia X nomor penerbangan XT-251 keberangkatan dari Bangkok Don Mueang (DMK) tanggal 24 Juni jam 11.25 tiba di Jakarta (CGK) jam 14.45, dilanjutkan dengan Batik Air ID-6366 berangkat dari Jakarta (CGK) jam 18.30 tiba di Yogyakarta (JOG) jam 19.30. Selisih antar penerbangan 3 jam kami anggap aman untuk mengantisipasi delay maupun antrian imigrasi dan pindah dari terminal 3 ke terminal 1. Untung saja penerbangan tepat waktu dan nyaris tidak ada antrian imigrasi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian, kami tidak terburu-buru ketika melapor ke penerbangan berikutnya.
Penerbangan berikutnya ke Jogja juga tepat waktu, dan kami tiba di rumah sekitar jam 20.00 GMT+7, dilanjutkan dengan persiapan packing, karena hari minggu sudah pergi lagi ke Makassar selama 5 hari.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Penerbangan kami adalah Indonesia Air Asia X nomor penerbangan XT-251 keberangkatan dari Bangkok Don Mueang (DMK) tanggal 24 Juni jam 11.25 tiba di Jakarta (CGK) jam 14.45, dilanjutkan dengan Batik Air ID-6366 berangkat dari Jakarta (CGK) jam 18.30 tiba di Yogyakarta (JOG) jam 19.30. Selisih antar penerbangan 3 jam kami anggap aman untuk mengantisipasi delay maupun antrian imigrasi dan pindah dari terminal 3 ke terminal 1. Untung saja penerbangan tepat waktu dan nyaris tidak ada antrian imigrasi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian, kami tidak terburu-buru ketika melapor ke penerbangan berikutnya.
Penerbangan berikutnya ke Jogja juga tepat waktu, dan kami tiba di rumah sekitar jam 20.00 GMT+7, dilanjutkan dengan persiapan packing, karena hari minggu sudah pergi lagi ke Makassar selama 5 hari.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Melihat Nanta Show di Bangkok
Dalam perjalanan dari Pattaya ke Bangkok, jalan agak macet, sehingga kami tiba jam 19.00. Akhirnya, kami urung ke MBK untuk melihat-lihat suasana maupun barang yag dijual di pusat perbelanjaan itu. Kami akhirnya masuk ke resto di sebuah hotel untuk makan malam selama kurang lebih 45 menit, kemudian melanjutkan ke Nanta Show.
Cookin Nanta adalah pertunjukan hiburan dengan tema masak memasak. Pertunjukan ini dimulai pukul 20.00 GMT+7. Pertunjukan ini dibalut dengan komedi yang menyenangkan, dan penonton dibuat tertawa dengan tingkah laku 5 orang aktor yang bertingkah kocak dengan menampilkan atraksi yang lucu.
Selesai menonton Nanta Show, kami kembali check-in ke Dynasty Hotel Bangkok untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta esok hari.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Cookin Nanta adalah pertunjukan hiburan dengan tema masak memasak. Pertunjukan ini dimulai pukul 20.00 GMT+7. Pertunjukan ini dibalut dengan komedi yang menyenangkan, dan penonton dibuat tertawa dengan tingkah laku 5 orang aktor yang bertingkah kocak dengan menampilkan atraksi yang lucu.
Selesai menonton Nanta Show, kami kembali check-in ke Dynasty Hotel Bangkok untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta esok hari.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Selasa, 28 Juni 2016
Floating Market Pattaya, Silverlake, dan Dried Food Market
Dalam kepulangan kembali ke Bangkok dari Pattaya, kami mengunjungi Floating Market di Pattaya. Floating market semacam ini di Indonesia ada juga di Banjarmasin, di mana transaksi jual beli barang dilakukan di atas perahu di pasar sungai. Bedanya, pasar terapung di Thailand sudah diubah rancangannya untuk menerima kunjungan turis dan ada loket untuk mendata turis yang masuk ke pasar terapung ini.
Dalam perjalanan menuju ke pasar terapung, kami berhenti di Silverlake untuk sekedar berfoto selama kurang lebih 15 menit. Daerah ini adalah milik perseorangan dan dibuat dengan bentuk perkebunan anggur dan bangunan dengan gaya arsitektur Italia.
Salah satu makanan favorit yang ada di pasar terapung Pattaya adalah ketan mangga (mango sticky rice). Makanan ini adalah khas Thailand, namun di Indonesia juga banyak yang menjualnya. Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, kami mampir di tempat oleh-oleh yang menjual berbagai macam makanan kering khas Thailand. Jangan kuatir dengan masalah pemuatan di koper, karena tersedia layanan packing gratis dengan dus yang aman, disediakan untuk pembelian di atas 1000 Baht.
Waktu sudah sore, sehingga kami sudah tidak sempat lagi mampir ke MBK untuk melihat mall yang merupakan pusat belanja murah di Bangkok.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Dalam perjalanan menuju ke pasar terapung, kami berhenti di Silverlake untuk sekedar berfoto selama kurang lebih 15 menit. Daerah ini adalah milik perseorangan dan dibuat dengan bentuk perkebunan anggur dan bangunan dengan gaya arsitektur Italia.
Salah satu makanan favorit yang ada di pasar terapung Pattaya adalah ketan mangga (mango sticky rice). Makanan ini adalah khas Thailand, namun di Indonesia juga banyak yang menjualnya. Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, kami mampir di tempat oleh-oleh yang menjual berbagai macam makanan kering khas Thailand. Jangan kuatir dengan masalah pemuatan di koper, karena tersedia layanan packing gratis dengan dus yang aman, disediakan untuk pembelian di atas 1000 Baht.
Waktu sudah sore, sehingga kami sudah tidak sempat lagi mampir ke MBK untuk melihat mall yang merupakan pusat belanja murah di Bangkok.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Gems Gallery Pattaya dan Nong Nooch Village
Hari ke-3 perjalanan Bangkok - Pattaya, kami mengunjungi Gems Gallery Pattaya, dan di sana kami naik kereta listrik untuk melihat proses penambangan dan pembuatan perhiasan dengan batu permata secara langsung. Selesai itu, maka tamu diarahkan ke show room besar yang menjual perhiasan dengan batuan berharga, yang memiliki harga yang aduhai.
Setelah semua anggota rombongan masuk ke dalam bus, kami menuju ke Nong Nooch Village untuk melihat pertunjukan tarian tradisional Thailand dan melihat pertunjukan gajah, dilanjutkan dengan makan siang dengan menu tradisional di area yang sama.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Setelah semua anggota rombongan masuk ke dalam bus, kami menuju ke Nong Nooch Village untuk melihat pertunjukan tarian tradisional Thailand dan melihat pertunjukan gajah, dilanjutkan dengan makan siang dengan menu tradisional di area yang sama.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Big Bee Farm Pattaya, Pantai Pattaya dan Art In Paradise
Memasuki Pattaya, kami wajib mampir ke Big Bee Farm, yaitu peternakan lebah yang besar di Pattaya. Kami diberikan penjelasan mengenai jenis-jenis lebah dan proses budidaya, dan juga mencicipi minuman madu yang dicampur dengan royal jelly, berikut penjelasan mengenai manfaat suplemen makanan ini.
Kemudian, setelah rombongan selesai berbelanja produk madu, kami menuju ke Pantai Pattaya dan berhenti di depan Hard Rock Pattaya untuk sekedar berfoto dan belanja merchandhise.
Area Pattaya ini kecil dan jalannya kebanyakan adalah searah, sehingga kita bisa berputar-putar dalam waktu kruang dari 30 menit. Kami kemudian mengunjungi Art In Paradise yang menyuguhkan lukisan-lukisan di dinding dan di lantai. Para tamu wajib melepas sepatu, karena untuk kebersihan dan juga mencegah adanya goresan di lukisan.
Efek visual ditampilkan di sini, sehingga dalam foto kita seolah-olah berada di dalam gambar lukisan. Selesai mengunjungi Art In Paradise, kami pergi makan malam sambil menunggu sebagian dari anggota rombongan yang mengambil tur optional untuk melihat show banci. Selesai itu kami kemudian check in ke hotel Century Pattaya. Hotel tua yang cukup untuk sekedar beristirahat malam dan berjalan kaki menikmati area Pattaya di sekitar hotel.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Kemudian, setelah rombongan selesai berbelanja produk madu, kami menuju ke Pantai Pattaya dan berhenti di depan Hard Rock Pattaya untuk sekedar berfoto dan belanja merchandhise.
Area Pattaya ini kecil dan jalannya kebanyakan adalah searah, sehingga kita bisa berputar-putar dalam waktu kruang dari 30 menit. Kami kemudian mengunjungi Art In Paradise yang menyuguhkan lukisan-lukisan di dinding dan di lantai. Para tamu wajib melepas sepatu, karena untuk kebersihan dan juga mencegah adanya goresan di lukisan.
Efek visual ditampilkan di sini, sehingga dalam foto kita seolah-olah berada di dalam gambar lukisan. Selesai mengunjungi Art In Paradise, kami pergi makan malam sambil menunggu sebagian dari anggota rombongan yang mengambil tur optional untuk melihat show banci. Selesai itu kami kemudian check in ke hotel Century Pattaya. Hotel tua yang cukup untuk sekedar beristirahat malam dan berjalan kaki menikmati area Pattaya di sekitar hotel.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Menyusuri Sungai Chao Phraya, Mengunjungi Wat Traimit dan Wat Arun di Bangkok
Perjalanan hari ke-2 di Bangkok dimulai dengan mengunjungi Wat Traimit, yaitu Kuil Buddha Emas. Karea tur kami adalah SIC (seat in coach), kami bersama-sama dengan tamu lain dari Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, dan Ambon. Masing-masing berada di hotel yang berbeda sehingga harus menjemput satu per satu.
Setelah mengunjungi Wat Traimit, kami masuk ke area Sungai Chao Phraya dan sepakat gotong royong untuk menyewa 1 perahu untuk digunakan secara private, daripada harus berjalan jauh menuju ke Wat Arun. Dalam perjalanan, kami sempat menepi untuk memberi makan ikan patin dengan roti yang sudah disesiakan di perahu. Di Wat Arun, para ibu berbelanja karena infornya di sinilah harga-harga barang paling murah untuk kualitas barang yang sama, dibandingkan dengan membeli di MBK. Para pedagang pun mau dibayar dengan menggunakan Rupiah, sehigga tidak perlu kuatir jika kehabisan uang Baht.
Selanjutnya, kami pergi ke Nouvo City Hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan sembari tidur siang di bus selama 2 jam ke Pattaya.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Setelah mengunjungi Wat Traimit, kami masuk ke area Sungai Chao Phraya dan sepakat gotong royong untuk menyewa 1 perahu untuk digunakan secara private, daripada harus berjalan jauh menuju ke Wat Arun. Dalam perjalanan, kami sempat menepi untuk memberi makan ikan patin dengan roti yang sudah disesiakan di perahu. Di Wat Arun, para ibu berbelanja karena infornya di sinilah harga-harga barang paling murah untuk kualitas barang yang sama, dibandingkan dengan membeli di MBK. Para pedagang pun mau dibayar dengan menggunakan Rupiah, sehigga tidak perlu kuatir jika kehabisan uang Baht.
Selanjutnya, kami pergi ke Nouvo City Hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan sembari tidur siang di bus selama 2 jam ke Pattaya.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Perjalanan ke Bangkok: Dynasty Hotel Bangkok
Setelah seharian berkeliling Singapura, kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok dengan menggunakan maskapai Tiger Air TR-2104 jam 12.30 GMT+8. Perjalanan berangkat pagi atau siang menurut saya adalah perjalanan yang paling pas, karena kita tidak terburu-buru untuk checkout di Singapura dan juga waktunya pas untuk check-in penginapan di Bangkok.
Perjalanan kami cukup mulus, dan kami semua tiba tepat waktu di Suvarnabhumi Airport (BKK). Oh ya, di Bangkok ini, karena kendala bahasa dan juga faktor pertimbangan membawa banyak anggota keluarga, kami memilih untuk tidak tur sendiri, namun menggunakan jasa tur. Biayanya terhitung hemat, untuk keseluruhan tur 4 hari 3 malam, sudah termasuk hotel, kendaraan, makan, dan tipping wajib bagi guide dan driver, biayanya dibulatkan adalah Rp. 1.500.000 per orang, dengan minimum keberangkatan 2 orang.
Di bandara, kami sudah dijemput oleh Ms. Alisa atau bisa dipanggil Ms. Sofia, yang fasih berbahasa Melayu, karena katanya pernah kuliah di Malaysia. Kami diantar ke Dynasty Hotel Bangkok, dan acara kami seharian sampai malam adalah acara bebas. Hotel Dynasty ini adalah hotel yang tua, namun dari segi harga memang murah. Bagi yang mau mandi, ada bathub yang bisa digunakan untuk berendam air panas, Air minum panas disediakan dengan thermos di dalam kamar dan kita bisa mengambil dan mengisi ulang di restoran depan lobi. Kami request connecting room sehingga anak-anak bisa wara-wiri ke kamar opungnya tanpa perlu keluar kamar.
Kamar hotel kami menghadap Kanal Saen Saep, dan kami bisa melihat banyak orang yang naik turun perahu untuk keperluan transportasinya.
Untuk kuliner, di area hotel ini ada pasar malam yang menyajikan jajanan dan makan dengan harga yang murah.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Pertunjukan Wonder Full - Light and Water Show Singapura
Pemandangan Singapura bagus juga untuk dinikmati di malam hari. Salah satunya adalah Pertunjukan Wonder Full - Light & Water Show Singapura yang bisa dilihat gratis di area Marina Bay Sands, yang diputar mulai pukul 20.00 dan 21:30. Pada hari Jumat dan Sabtu malam, ada pemutaran tambahan di jam 23.00.
Untuk menuju ke show ini, kami naik MRT menuju Bayfront, dan berjalan menuju ke lokasi show. Pertunjukan yang dimainkan adalah air mancur yang menari yang diproyeksi dengan animasi yang spektakuler. Pertunjukan ini juga bisa dinikmati dari seberang, di area Merlion Park.
Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.
Langganan:
Postingan (Atom)














