Sabtu, 14 Maret 2026

Waktu Ketika Kode Harus Ditulis dengan Tangan

Tahun 2001 saya masuk Teknik Elektro UGM, beberapa semester kemudian mengambil konsentrasi Informatika. Dan salah satu kejutan awalnya adalah tugas laboratorium harus dikumpulkan dalam bentuk tulisan tangan. Algoritma, flowchart, bahkan kode program, semua ditulis di atas kertas. Kalau salah satu karakter saja keliru, ya dicoret. Kalau lupa titik koma, harus diselipkan tanda sisip kecil di antara baris. Kadang malah lebih rapi kalau ditulis ulang saja dari awal.

Waktu itu saya merasa ini agak aneh. Kita belajar komputer, tapi justru tidak boleh menggunakan komputer. Tidak ada compile, debugger, dan autocomplete. Yang ada hanya kertas dan pulpen. Saya ingat duduk lama sekali di meja, mencoba menelusuri logika program sebelum menuliskannya. Karena kalau sudah ditulis dan ternyata salah, rasanya malas sekali memperbaikinya. Waktu itu saya menganggapnya sebagai metode yang agak kuno. Dalam hati saya sering berpikir kenapa kok tidak langsung saja pakai komputer?

Belakangan ini saya sering teringat pengalaman itu. Mungkin karena sekarang dunia pendidikan sedang ramai membahas AI. Banyak guru mulai khawatir tugas siswa dikerjakan oleh mesin. Ada yang mencoba memakai AI detector, ada juga yang mulai melarang penggunaan AI sama sekali. Saya tidak terlalu yakin pendekatan itu akan berhasil. AI sudah terlalu mudah diakses. Melarangnya rasanya seperti mencoba melarang kalkulator di kelas matematika. Tapi di tengah semua diskusi itu, ingatan tentang tugas tulisan tangan tadi tiba-tiba terasa relevan lagi.

Dulu, ketika menulis kode di atas kertas, tidak ada tempat untuk “coba-coba”. Setiap baris harus dipikirkan dulu sebelum ditulis. Kadang saya berhenti cukup lama hanya untuk memastikan alur logikanya benar. Dan mungkin di situlah sebenarnya latihan itu terjadi. Bukan pada kertasnya, tapi pada proses berpikirnya.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat menulis tentang AI dan pendidikan. Waktu itu saya berpendapat bahwa guru sebaiknya tidak terlalu fokus pada mendeteksi apakah sebuah tugas dibuat oleh AI atau tidak. Lebih baik fokus pada bagaimana siswa menjelaskan proses berpikirnya. Pendapat itu masih saya pegang. Tetapi ada satu hal yang baru terasa jelas belakangan ini.

Beberapa minggu lalu saya melihat beberapa teman mengikuti lomba lari. Ada yang ikut 5K, ada yang 10K, bahkan ada yang half marathon. Sebagai orang yang sudah terlalu lama hidup di dunia teknologi, pikiran pertama saya agak aneh, yaitu 'kenapa tidak naik motor saja?'

Tentu saja itu bercanda. Tapi setelah dipikir-pikir, pertanyaan itu mirip dengan sesuatu yang mungkin juga terjadi di kepala banyak siswa sekarang. Kalau sebuah tugas bisa diselesaikan dalam beberapa detik dengan AI, kenapa harus mengerjakannya sendiri?

Masalahnya, orang tidak ikut lomba lari karena tidak ada kendaraan. Mereka lari karena proses berlarinya itu sendiri. Tubuh dilatih, napas diatur, otot diperkuat. Semua itu tidak terjadi kalau seseorang hanya duduk di atas motor dan langsung sampai di garis finis. Belajar mungkin tidak jauh berbeda. Ketika seseorang menulis kode sendiri, menyusun argumen sendiri, atau memecahkan masalah sendiri, sebenarnya yang sedang dilatih bukan hanya hasil akhirnya. Yang sedang dibangun adalah cara berpikir.

AI jelas akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Programmer sudah mulai menggunakan AI coding assistant, penulis menggunakan AI untuk merapikan draft, dan banyak pekerjaan lain akan mengalami hal yang sama. Tapi saya semakin merasa bahwa alat seperti itu paling berguna bagi orang yang sudah memahami proses dasarnya. Editor berpengalaman bisa memakai AI karena dia tahu mana kalimat yang perlu dipotong. Programmer berpengalaman bisa memakai AI karena dia tahu kapan sebuah solusi terlihat benar tapi sebenarnya berbahaya. Tanpa pemahaman itu, AI hanya memberi jawaban yang tampak rapi.

Kadang saya berpikir kembali tentang tugas-tugas tulisan tangan di awal kuliah dulu. Waktu itu terasa merepotkan. Bahkan terasa tidak masuk akal. Tapi mungkin justru di situ ada sesuatu yang penting, yaitu kita dipaksa menjalani prosesnya. Dan sekarang, dua puluh tahun kemudian, saya baru mulai benar-benar memahami kenapa pengalaman itu masih terasa membekas. Mungkin karena belajar memang bukan tentang seberapa cepat mendapatkan jawaban. Sering kali justru tentang berapa lama kita bergumul dengan pertanyaannya.

Rabu, 11 Februari 2026

Meta, Integration Hell, dan Mengapa Sistem Canggih Bisa Terasa Patah

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa sedang melakukan "birokrasi digital" hanya untuk mengirim satu pesan atau memvalidasi satu data bisnis di ekosistem raksasa seperti Meta. Sebagai praktisi sistem, saya sering melihat fenomena menarik di Meta, yaitu sebuah perusahaan memiliki engineer terbaik dunia dan infrastruktur paling canggih, namun produknya terasa fragmented.

Pengguna merasa harus melompat dari satu "dunia" ke dunia lain, dari Facebook, WhatsApp, Instagram, Meta Business Suite, Facebook Developer, dengan aturan dan logika yang berbeda-beda. Saya melihat ini adalah gejala klasik dari Integration Hell.

Masalah di Meta (dan banyak organisasi besar lainnya) biasanya bukan di level teknologi, melainkan pada fragmentasi kendali. Dalam dunia manajemen sistem, kita mengenal Conway’s Law, di mana sistem yang dirancang organisasi cenderung mencerminkan struktur komunikasi internal mereka.

Ketika tim Facebook, Instagram, dan WhatsApp bekerja dengan KPI dan struktur data yang berbeda, hasilnya adalah ekosistem yang terasa seperti kumpulan "negara bagian" dengan aturan visa yang rumit, bukan satu benua yang terintegrasi. Lalu, apa pelajarannya bagi kita yang sedang membangun sistem di pemerintahan atau korporasi?

1. Sistem Harus Mengikuti Alur Kerja, Bukan Struktur Organisasi

Kesalahan fatal yang sering terjadi dalam digitalisasi (terutama di sektor publik) adalah membangun aplikasi berdasarkan Struktur Organisasi (SOTK). Ibarat Pemerintah Daerah, jika ada 5 bidang di satu dinas, maka muncul 5 menu atau bahkan 5 aplikasi berbeda.

Seorang System Analyst yang baik harus mampu membalik logika ini. Seharusnya pengguna tidak peduli siapa yang mengelola datanya, tetapi pengguna hanya ingin urusannya selesai dalam satu alur yang logis.

2. Birokrasi Digital vs "Automated Trust"

Mengapa kita masih diminta mengunggah dokumen fisik di sistem yang mengklaim dirinya pintar? Itu tandanya sistem tersebut belum memiliki Governance UX yang matang. Integrasi sejati bukan sekadar menyambungkan API, tapi membangun kepercayaan otomatis antar sistem. Jika Data A sudah divalidasi oleh Sistem X, maka Sistem Y seharusnya tidak perlu bertanya lagi. Inilah inti dari efisiensi tata kelola.

3. Skala vs Kesederhanaan

Tumbuh besar itu mudah, tapi tumbuh besar sambil tetap sederhana adalah seni tingkat tinggi dalam rekayasa sistem. Banyak sistem menjadi monster karena terlalu banyak fitur yang dipaksakan tanpa adanya single source of truth. Menjaga kesederhanaan di tengah kompleksitas membutuhkan pemahaman mendalam tentang integrasi, memastikan bahwa di balik layar yang rumit, pengguna tetap merasakan pengalaman yang mulus.

Pengalaman saya mendampingi berbagai transformasi digital, mulai dari sistem manajemen informasi pusat hingga tata kelola keuangan di  daerah mengajarkan satu hal, yaitu bahwa teknologi hanyalah alat, tapi integrasi adalah pola pikir.

Apakah kita sedang membangun "pulau-pulau aplikasi" yang saling terisolasi, atau kita sedang membangun satu ekosistem yang saling berbicara? Di situlah letak perbedaan antara sistem yang sekadar jalan dengan sistem yang benar-benar memberi solusi. Mari kita berhenti membangun aplikasi, dan mulai membangun integrasi.

Kamis, 14 Agustus 2025

Moral Luck: Saat Keberuntungan Mengatur Hidup dan Moral Kita

Sore ini, saya duduk dan membiarkan pikiran mengembara, membentuk sebuah cerita yang tidak pernah terjadi tapi terasa begitu nyata di kepala saya. Dalam cerita itu ada dua orang yang memutuskan pulang dengan mengemudi setelah minum terlalu banyak. Mereka menempuh jalan yang berbeda namun dengan niat dan tindakan yang sama. Yang pertama tiba di rumah dengan selamat. Yang kedua menabrak seorang anak dan hidupnya runtuh seketika.

Saya membayangkan bagaimana dunia akan menilai mereka. Satu dianggap beruntung, satu lagi dikutuk sebagai pembunuh. Padahal, kalau ditarik ke asalnya, mereka sama-sama bersalah dan sama-sama ceroboh. Bedanya hanya hasil akhir yang merupakan sesuatu yang di luar kendali mereka.

Dari sinilah saya mulai merenung. Selama ini kita diajari bahwa kita sepenuhnya bertanggung jawab atas siapa diri kita dan apa yang kita lakukan. Tetapi, filsuf Thomas Nagel dan Bernard Williams pernah menantang pandangan ini dengan konsep yang mereka sebut moral luck atau keberuntungan moral. Mereka mengungkapkan bahwa penilaian moral terhadap seseorang sering kali ditentukan oleh hal-hal yang berada di luar kendali orang itu.

Nagel membaginya menjadi beberapa bentuk. Ada resultant luck, keberuntungan atau ketidakberuntungan pada hasil tindakan kita, seperti dua orang yang sama-sama mabuk itu. Ada circumstantial luck, keberuntungan dalam situasi yang kita hadapi, di mana kita mungkin terlihat baik hanya karena belum pernah berada di bawah godaan atau tekanan ekstrem. Ada constitutive luck, keberuntungan dalam hal siapa kita, termasuk sifat, temperamen, dan kecenderungan bawaan yang terbentuk dari genetik, pola asuh, dan pengalaman masa kecil yang tidak kita pilih. Dan ada causal luck, keberuntungan yang tersembunyi dalam rantai sebab-akibat panjang yang membentuk setiap keputusan kita.

Bernard Williams menekankan sisi lain, yaitu bahwa keberuntungan moral membuat penilaian kita terhadap diri sendiri juga menjadi rapuh. Kita bisa merasa hebat atau hancur bukan hanya karena apa yang kita lakukan, tapi karena di mana kita berdiri dalam arus kebetulan yang tidak pernah kita rancang.

Semakin saya memikirkan ini, semakin saya sadar bahwa siapa saya hari ini adalah perpaduan antara usaha pribadi dan keberuntungan yang berpihak. Suatu “kebaikan” di dalam diri yang saya kira murni, dan pilihan-pilihan yang saya banggakan, semuanya berdiri di atas pondasi kebetulan yang mungkin saja tidak saya sadari. Begitu pula, kegagalan dan kesalahan orang lain tidak sepenuhnya lahir dari kemauan buruk mereka sendiri.

Kesadaran ini membuat belajar untuk tidak cepat menghakimi, dan lebih mau mengakui bahwa sebagian besar hidup ini adalah hasil dari jalan yang dibuka oleh keberuntungan, atau bisa tertutup karenanya. Sebelum saya merasa benar, saya perlu bertanya, apakah saya benar-benar baik atau hanya belum diuji? Apakah saya kuat atau hanya tidak mengalami hal itu?

Dan mungkin, dengan menyadari betapa besar peran keberuntungan moral, kita bisa membangun dunia yang sedikit lebih penuh empati. Dunia di mana kita menghargai usaha, tapi juga memahami batas kendali manusia. Dunia di mana kita tidak hanya menilai dari hasil, tapi juga mengingat bahwa semua orang sedang berjalan di atas papan tipis yang bisa saja patah kapan saja tanpa peringatan.

Jumat, 28 Maret 2025

Guru Bukan Lagi Pengawas, Tapi Pelatih Kritis di Era AI

Di era digital ini, penggunaan AI seperti ChatGPT oleh siswa untuk menyelesaikan tugas sudah bukan hal asing lagi. Mulai dari membuat esai, meringkas buku, hingga menulis makalah, semua bisa dilakukan dalam hitungan detik. Sebagai tenaga pendidik atau orang tua, reaksi spontan kita biasanya adalah: "Bagaimana cara mendeteksi ini? Jangan-jangan ini bukan hasil kerja mereka sendiri."

Namun, deteksi demi deteksi ternyata bukan solusi jangka panjang. Alat deteksi AI tidak akurat, bahkan bisa merugikan siswa yang menulis sendiri tugasnya. OpenAI sendiri sudah menarik alat deteksi buatan mereka karena dianggap tidak efektif.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya: beradaptasi dan naik level!

Kita sudah punya contoh dari masa lalu. Ketika kalkulator diperkenalkan, kita tidak menghentikan pelajaran matematika. Sebaliknya, kita justru memperdalam konsep, menerapkan logika, dan menyelesaikan masalah nyata. Karena kalkulasi dasar sudah bisa dilakukan mesin, maka peran manusia jadi lebih tinggi nilainya.

Dengan AI, kita bisa lakukan hal serupa. Bayangkan jika siswa diminta menggunakan AI untuk membuat esai di rumah. Tapi di kelas, mereka ditantang untuk mengkritisi hasil AI itu, memperbaikinya, atau bahkan menulis argumen tandingannya. Tugas tidak lagi berfokus pada produk akhir, tapi pada proses berpikir. Di sinilah nilai tambah manusia, yaitu intuisi, empati, sudut pandang, dan pemahaman konteks, menjadi kunci dalam proses pembelajaran.

Guru pun bergeser peran. Dari pemberi tugas, menjadi fasilitator diskusi. Dari penilai hasil akhir, menjadi pembimbing dalam proses berpikir.

Alih-alih bermain detektif, mari kita mulai membekali siswa dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif:

  • “Kenapa kamu memilih sudut pandang ini?”
  • “Apa yang bisa kamu ubah dari jawaban yang dibantu AI ini?”
  • “Apa konsekuensi dari argumen yang kamu bangun?”

AI bisa membantu menyusun kalimat. Tapi makna dan nilai dari kalimat itu tetap tanggung jawab manusia. Sudah saatnya pendidikan tidak lagi curiga, tapi justru bersahabat dengan teknologi. Dengan mengubah cara kita memandang AI dalam pendidikan, kita tidak hanya menghindari jebakan sebagai "polisi tugas," tetapi juga menyiapkan siswa menghadapi masa depan yang sesungguhnya: masa depan di mana AI adalah bagian dari keseharian kerja dan hidup mereka.

Saatnya kita berhenti bermain "whack-a-mole" dengan teknologi. Mari kita mendidik dengan bijak, bukan mencurigai tanpa henti.

Kamis, 12 Desember 2024

Cara Mengelola Proses di Linux SSH Tanpa Kehilangan Koneksi

Dalam dunia administrasi server, pengelolaan proses di Linux menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dikuasai. Seringkali, administrator mengakses server menggunakan SSH untuk menjalankan proses panjang seperti backup data, pemrosesan file besar, atau menjalankan aplikasi. Namun, jika koneksi SSH terputus, proses yang sedang berjalan bisa berhenti, menyebabkan kehilangan waktu dan tenaga.

Ketika bekerja di server, proses yang berjalan di background sangat penting. Misalnya, menjalankan skrip untuk analisis data atau melakukan migrasi database memerlukan waktu lama. Jika sesi SSH terputus secara tiba-tiba, proses tersebut akan dihentikan, menyebabkan gangguan besar, terutama pada server produksi. Manajemen proses yang baik memastikan bahwa tugas tetap berjalan meskipun ada gangguan pada koneksi.

Jika Anda sudah menjalankan proses di SSH tanpa memulai sesi `screen` atau `tmux`, Anda masih bisa menyelamatkan proses tersebut dengan langkah berikut:

  1. Jika proses sudah terlanjur berjalan, tekan `Ctrl + Z` untuk menghentikannya sementara. Ini akan mengembalikan Anda ke shell.
  2. Pindahkan proses ke background dengan perintah:
    # bg
  3. Agar proses tetap berjalan meskipun keluar dari sesi SSH, gunakan perintah:
    # disown   

Untuk selanjutnya, alat seperti `screen` atau `tmux` dapat digunakan. Kedua alat ini memungkinkan Anda membuat sesi terminal yang dapat dilepaskan dan disambungkan kembali kapan saja.

1. Menggunakan `screen`

  • Instal `screen` (jika belum terinstal):
    # sudo apt install screen
  • Mulai sesi baru:
    # screen
  • Jalankan perintah di dalam sesi `screen`.
  • Untuk melepaskan sesi, tekan `Ctrl + A, D`.
  • Untuk menyambungkan kembali sesi, gunakan:
    # screen -r

2. Menggunakan `tmux`

  • Instal `tmux`:
    # sudo apt install tmux
  • Mulai sesi baru:
    # tmux
  • Lepaskan sesi dengan `Ctrl + B, D`.
  • Sambungkan kembali dengan:
    # tmux attach

Jika Anda lupa menjalankan proses di dalam `screen` atau `tmux`, Anda dapat menggunakan `reptyr` untuk menghubungkan kembali proses ke sesi baru.

Instal `reptyr`

  1. Di Ubuntu/Debian:
    # sudo apt update
    # sudo apt install reptyr
  2. Di CentOS/RHEL:
    # sudo yum install epel-release
    # sudo yum install reptyr

Langkah Menghubungkan Proses:

  1. Temukan PID (Process ID) dari proses yang berjalan:
    # ps -ef | grep <nama_proses>
  2. Jalankan `screen` atau `tmux`, lalu gunakan `reptyr` untuk menghubungkan proses:
    # reptyr <PID>

Catatan:

Jika proses tidak dapat dihubungkan karena batasan kernel, ubah pengaturan `ptrace_scope` sementara:

# echo 0 | sudo tee /proc/sys/kernel/yama/ptrace_scope

Untuk menghindari masalah serupa, salah satunya bisa menggunakan `nohup` untuk menjalankan perintah tanpa gangguan, jalankan perintah dengan `nohup` agar tetap berjalan meskipun sesi SSH terputus:

# nohup <command> &

Selasa, 17 Oktober 2023

Asupan Nutrisi yang Tepat untuk Programmer: Belajar dari Nutrisi Pecatur

Programmer memiliki tantangan keseharian yang mirip dengan pecatur grandmaster. Sama seperti pemain catur, mereka membutuhkan konsentrasi tinggi, stamina mental, dan ketahanan terhadap stres selama berjam-jam. Oleh karena itu, penting bagi programmer untuk memperhatikan asupan nutrisi mereka agar dapat memberikan performa terbaik. Penelitian yang dilakukan oleh Roberto H. Baglione mengenai nutrisi para pecatur bisa memberikan kita wawasan tentang bagaimana pola makan yang tepat untuk seorang programmer.

Mengapa Nutrisi Penting bagi Programmer?

Sama seperti pemain catur, programmer menghadapi tekanan mental yang tinggi dan membutuhkan energi berkelanjutan untuk menjaga konsentrasi. Asupan nutrisi yang tepat dapat membantu meningkatkan konsentrasi, mempertahankan energi, dan mencegah kelelahan mental.

Berikut ini adalah pola makan yang dianjurkan berdasarkan penelitian Roberto H. Baglione:

1. Sarapan Adalah Kunci
66,7% pecatur grandmaster makan tiga kali sehari, tetapi 36,1% sering melewatkan sarapan. Sarapan sangat penting karena mempengaruhi konsentrasi dan performa mental di pagi hari. Programmer harus memastikan untuk selalu sarapan.

2. Makanan Sebelum Mulai Bekerja
Sebaiknya hindari makan berat atau makanan yang sulit dicerna sebelum mulai bekerja. Baglione menemukan bahwa sebagian besar pecatur menghindari makan berat sebelum pertandingan. Makan berat dapat membuat seseorang merasa mengantuk dan kurang fokus.

3. Makanan dan Minuman Selama Bekerja
Selama berjam-jam bekerja, penting untuk tetap terhidrasi dan mengonsumsi camilan yang mengandung energi. Pecatur sering memilih cokelat (80,5%), buah-buahan (14,6%), dan batang sereal (9,8%). Minuman seperti air, kopi, teh, dan jus buah juga dianjurkan.

4. Suplemen Nutrisi
Meskipun sekitar sepertiga pecatur melaporkan penggunaan suplemen diet, penting untuk berhati-hati. Suplemen harus dikonsumsi berdasarkan anjuran dokter atau ahli gizi dan pastikan tidak mengandung zat terlarang.

5. Aktivitas Fisik
Walaupun fokus utama adalah kesehatan mental, aktivitas fisik juga penting. 87,5% pecatur mengatakan mereka melakukan aktivitas fisik selain bermain catur. Aktivitas fisik dapat meningkatkan postur tubuh, mengurangi stres, dan meningkatkan kinerja kognitif. Programmer juga harus memastikan untuk memasukkan aktivitas fisik dalam rutinitas mereka.

6. Kebiasaan Merokok
Salah satu aspek lain yang patut dipertimbangkan dalam konteks kesehatan dan kinerja kognitif adalah penggunaan tembakau atau rokok. Nikotin yang terkandung dalam tembakau mengurangi kemampuan tubuh untuk memanfaatkan kalsium, yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Selain itu, para perokok sering kali kekurangan vitamin tertentu. Sebagai contoh, mereka mungkin mengalami kekurangan vitamin (dan prekursor) seperti B1, B12, C, dan ß-karoten.

Dalam penelitian yang sama oleh Roberto H. Baglione, ditemukan bahwa 15,3% pecatur yang disurvei mengaku sebagai perokok. Meskipun angka ini mungkin lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi merokok di populasi umum di beberapa negara, tetap penting untuk mencatat bahwa sejumlah pecatur memiliki kebiasaan merokok yang dapat mempengaruhi kesehatan dan performa mereka.

Baik bagi pecatur maupun programmer, menghindari rokok dapat memberikan manfaat ganda. Tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, menghindari rokok juga dapat membantu mempertahankan asupan nutrisi yang optimal untuk mendukung kinerja mental dan kognitif. Bagi mereka yang sudah memiliki kebiasaan merokok, mendapatkan dukungan untuk berhenti bisa menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan performa kerja.

Kesimpulan
Ketahanan mental dan fisik adalah kunci sukses bagi programmer dan pecatur. Dengan merujuk pada penelitian tentang nutrisi pecatur, programmer dapat mendapatkan wawasan tentang bagaimana menjaga stamina dan konsentrasi mereka dengan pola makan yang tepat.

Rujukan: Roberto H. Baglione, "Nutritional Practices of Chess Grandmasters".

Sabtu, 22 Juli 2023

Pembakaran Sampah di Yogyakarta: Solusi dan Permasalahan

Pembakaran sampah di Yogyakarta bisa saja menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi masalah limbah di kota ini. Yogyakarta, seperti banyak daerah lain di Indonesia, menghadapi tantangan dalam mengelola sampahnya yang terus meningkat. Solusi tradisional seperti penimbunan di tempat pembuangan akhir (TPA) semakin tidak memadai, dan metode alternatif sedang dicari. Salah satu metode alternatif tersebut adalah insinerasi atau pembakaran sampah. Meski tampak menjanjikan, metode ini tidak tanpa permasalahan.

Pembakaran sampah dapat berfungsi untuk mengurangi volume limbah yang mencapai TPA dan juga dapat menghasilkan energi melalui proses yang dikenal sebagai "waste to energy". Proses ini dapat mengubah panas yang dihasilkan selama pembakaran menjadi energi listrik. Di beberapa negara maju seperti Denmark dan Belanda, insinerasi telah menjadi metode pengelolaan limbah yang umum dan berhasil.

Pembakaran sampah tampak menjanjikan dalam mengatasi masalah limbah di Yogyakarta. Kota ini memiliki sejumlah besar limbah rumah tangga dan komersial yang bisa diolah melalui insinerasi. Proses ini bisa membantu mengurangi tekanan pada TPA Piyungan yang sudah semakin penuh.

Namun, pembakaran sampah di Yogyakarta juga memiliki tantangan dan permasalahan. Pertama, ada masalah abu terbang atau sisa pembakaran yang ditangkap oleh filter. Abu ini harus dibuang di fasilitas limbah berbahaya, yang bisa menambah beban pengelolaan limbah di kota ini. Selain itu, biaya pembangunan dan pengoperasian pabrik insinerasi bisa sangat tinggi. Ini bisa menjadi tantangan bagi pemerintah kota yang harus mempertimbangkan berbagai kebutuhan infrastruktur lainnya.

Aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Meski insinerasi dapat mengurangi volume sampah, dan sering diklasifikasikan sebagai energi terbarukan, seperti angin atau tenaga surya, proses ini juga menghasilkan gas rumah kaca yang signifikan yang setara dengan batu bara dan gas. Di Uni Eropa, pabrik insinerasi menghasilkan sekitar 52 juta ton CO2 per tahun. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat dampak pemanasan global yang disebabkan oleh gas rumah kaca.

Terakhir, komposisi sampah di Yogyakarta mungkin tidak selalu ideal untuk pembakaran. Banyak sampah rumah tangga di Indonesia termasuk Yogyakarta berupa bahan organik yang sulit dibakar, seperti sisa makanan dan bahan organik lainnya.

Maka, sebelum memutuskan untuk mengadopsi pembakaran sampah sebagai solusi utama, Yogyakarta perlu mempertimbangkan semua faktor ini. Ada kebutuhan untuk sistem pengumpulan sampah yang baik, regulator lingkungan yang kuat, dan juga kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik.

Dalam jangka panjang, Yogyakarta juga perlu mengeksplorasi solusi pengelolaan sampah lainnya yang lebih berkelanjutan, seperti peningkatan daur ulang dan program pengurangan produksi sampah. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, Yogyakarta dapat menangani masalah limbahnya dengan lebih efektif.

Sabtu, 08 Juli 2023

Masa Lalu Menentukan Masa Depan: Pantat Kuda dan Pesawat Luar Angkasa

Ada sebuah legenda yang beredar, mengatakan bahwa lebar belakang dua kuda perang Romawi telah menentukan lebar rel kereta api di Amerika, yang kemudian mempengaruhi desain roket pendorong pesawat ulang alik, atau Space Shuttle. Sebuah cerita yang begitu memukau, namun perlu diketahui bahwa kisah ini lebih kompleks dari yang disebutkan dalam legenda tersebut.

Di zaman kekaisaran Romawi, kereta perang dirancang sedemikian rupa untuk menampung dua kuda perang. Desain ini memberikan pengaruh pada lebar roda kereta perang tersebut dan kemudian membentuk pola jejak roda di jalan-jalan Romawi. Namun, jejak ini tidak mempunyai ukuran yang standar dan seragam, malah beragam dalam lebarnya.

Berabad-abad kemudian, pada era industri, kereta api mulai memainkan peran penting dalam transportasi. Banyak desainer kereta api di Amerika yang merupakan ekspatriat dari Inggris, dan mereka mengadaptasi ukuran rel kereta yang digunakan di Inggris yaitu 4 kaki, 8,5 inci. Meskipun begitu, ukuran ini bukanlah satu-satunya ukuran jejak roda kereta yang digunakan. Faktanya, ukuran ini menjadi populer dan luas digunakan karena adopsi oleh sistem kereta api yang sedang berkembang di Inggris, dan bukan karena pengaruh langsung dari ukuran roda kereta perang Romawi.

Pada abad ke-20, kita melihat kemajuan teknologi dengan munculnya pesawat ulang-alik. Pesawat milik NASA ini memiliki dua roket pendorong solid (SRBs / solid rocket boosters) yang melekat pada tangki bahan bakar utama. Desain SRBs ini memang dipengaruhi oleh kebutuhan untuk mengangkut roket ini dengan kereta api dari pabrik ke lokasi peluncuran, yang mana rel kereta api memiliki batasan lebar. Namun, faktor penentu utama dari desain SRBs ini lebih banyak didasarkan pada faktor teknologi dan persyaratan rekayasa dari pesawat ulang-alik itu sendiri.

Sebagai kesimpulan, meskipun sangat menarik untuk membayangkan bahwa lebar belakang kuda perang Romawi bisa mempengaruhi teknologi pesawat ulang alik, kenyataannya adalah pengembangan teknologi adalah proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hal ini termasuk preseden sejarah, kondisi lokal, material yang tersedia, inovasi teknis, dan banyak lainnya. Satu hal yang pasti, setiap teknologi yang kita miliki sekarang adalah hasil dari rentetan peristiwa dan inovasi yang panjang, dan masing-masing memiliki cerita mereka sendiri yang menarik untuk diceritakan.

Jumat, 30 Juni 2023

Deadline: Menghargai Batas Waktu sebagai Momentum dan Dorongan

Batas waktu, atau yang dikenal sebagai deadline, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Itu adalah momen ketika sesuatu harus selesai atau suatu tujuan harus dicapai. Namun, apakah kita pernah mempertimbangkan makna filosofis yang terkandung di dalam konsep deadline?

Meski deadline bisa menciptakan rasa tertekan, mereka juga membantu memberikan kerangka dan penjadwalan. Mereka mengarahkan fokus kita dan memberikan batasan dalam dunia yang tampaknya tidak terbatas. Kehadiran deadline menunjukkan batas yang jelas kapan kita harus menuntaskan pekerjaan atau mencapai suatu target.

Dari perspektif filosofis, deadline menggambarkan bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas. Setiap detik, menit, jam, dan hari yang berlalu tak akan pernah kembali. Setiap deadline mengingatkan kita bahwa waktu adalah sumber daya yang sangat berharga dan harus kita kelola dengan bijak.

Selain itu, deadline juga dapat menjadi sarana untuk introspeksi diri. Mereka membantu kita mengevaluasi bagaimana kita menggunakan waktu, apa yang menjadi prioritas kita, dan bagaimana kita merencanakan untuk mencapai tujuan kita. Deadline dapat memaksa kita untuk mempertanyakan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita dan apa yang perlu kita lakukan untuk meraihnya.

Lebih jauh, deadline mendorong kita untuk mengambil tindakan. Mereka membatasi ruang untuk penundaan dan mendorong kita untuk bergerak maju, mendorong kita untuk mengambil langkah dan menyelesaikan pekerjaan. Tanpa deadline, kita mungkin akan terperangkap dalam lingkaran penundaan dan kekurangan motivasi.

Dalam konteks ini, deadline dapat dianggap sebagai lambang dari kehidupan itu sendiri. Sama seperti kehidupan yang memiliki batas waktu, begitu juga dengan segala hal yang kita lakukan. Kesadaran bahwa waktu kita terbatas bisa mendorong kita untuk memanfaatkan setiap momen dan berusaha mencapai tujuan kita.

Namun, kita juga harus ingat untuk tidak membiarkan deadline mengendalikan hidup kita. Kita harus memahami bahwa deadline ada untuk membantu kita, bukan untuk membuat kita merasa stress atau khawatir. Kita perlu belajar cara mengatur waktu dan prioritas kita dengan baik, sehingga kita bisa mencapai tujuan kita tanpa merasa terbebani.

Oleh karena itu, meski deadline bisa membuat kita merasa tertekan, mereka juga memberikan kita peluang untuk memahami pentingnya waktu, meninjau kembali prioritas kita, dan mendorong kita untuk bertindak. Dengan melihat deadline sebagai bantuan, bukan ancaman, kita bisa memanfaatkannya untuk membantu kita mencapai tujuan dan menjalani hidup yang lebih berarti dan produktif.

Minggu, 18 Juni 2023

Perjalanan dengan Mesin Waktu

Candi Prambanan 18 Juni 2023

Mesin waktu adalah konsep yang sering dijumpai dalam fiksi ilmiah, yang merujuk pada alat atau metode untuk melakukan perjalanan maju atau mundur dalam waktu. Ide mesin waktu pertama kali dipopulerkan oleh novel H.G. Wells, "The Time Machine", pada tahun 1895. Konsep ini kemudian menjadi bagian penting dari banyak cerita, film, dan permainan video.

Dalam teori fisika, ada beberapa hipotesis yang mungkin memungkinkan perjalanan waktu, tetapi semuanya sangat spekulatif dan kontroversial. Misalnya, relativitas umum Albert Einstein memprediksi adanya "lubang cacing", yang mungkin dapat digunakan untuk perjalanan waktu, tetapi masih banyak yang belum kita ketahui tentang apakah ini mungkin atau bagaimana itu bisa dilakukan.

Candi dan monumen lainnya dapat dilihat sebagai "mesin waktu" metaforis, yang membantu kita untuk melakukan "perjalanan waktu" dalam pemahaman dan pengetahuan kita. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu, memberi kita wawasan tentang bagaimana kehidupan, budaya, dan nilai-nilai dari peradaban yang telah lama berlalu.

Misalkan kita memandang sebuah candi sebagai lebih dari sekedar struktur batu yang megah; ia adalah "mesin waktu" yang dibangun oleh nenek moyang kita. Setiap relief dan ukiran pada dindingnya adalah pesan yang dikirim melintasi waktu, bertujuan untuk berbicara dengan generasi masa depan. Setiap detail mencerminkan cerita, tradisi, dan filosofi hidup mereka. Mereka adalah kode waktu, petunjuk yang disimpan dalam bentuk arsitektur dan seni, menunggu untuk didekripsi oleh kita, pewaris waktu.

Dengan cara ini, kita dapat "melakukan perjalanan waktu", bukan dalam arti harfiah mengubah posisi kita dalam garis waktu, tetapi dengan meresapi pengetahuan dan pengalaman dari masa lalu yang ditransmisikan melalui candi dan monumen. Mereka menjadi alat komunikasi antara masa lalu dan masa depan, membantu kita memahami dan menghargai warisan budaya dan sejarah kita. Dalam konteks ini, "mesin waktu" bukanlah alat fisik atau konsep ilmiah, tetapi lebih kepada alat pikiran dan pemahaman sebagai sarana untuk membuka pintu ke masa lalu dan merasakan kehidupan yang berlangsung berabad-abad yang lalu.

Kamis, 19 Januari 2023

Apa Itu Capital Investment Planning di Pemerintahan


Capital Investment Planning (CIP) atau perencanaan penanaman modal di pemerintahan melibatkan alokasi sumber keuangan untuk pembangunan, perbaikan, atau pembangunan infrastruktur dan pembelian peralatan. CIP dapat mencakup hal-hal seperti bangunan publik, sistem transportasi, dan proyek pekerjaan umum lainnya. Prosesnya di dalam CIP melibatkan identifikasi kebutuhan, pembuatan proposal perencanaan, dan alokasi pendanaan. CIP mungkin juga melibatkan kemitraan publik-swasta dan bentuk pembiayaan lainnya. Tujuan dari CIP adalah untuk memastikan bahwa sumber daya publik digunakan secara efisien dan efektif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Langkah-langkah (CIP) di pemerintahan dapat berbeda-beda tergantung pada organisasi atau instansi tertentu, namun secara umum mencakup hal-hal berikut:

  1. Identifikasi kebutuhan: Langkah ini melibatkan identifikasi kebutuhan infrastruktur di masyarakat, seperti sistem transportasi, bangunan umum, dan proyek pekerjaan umum lainnya.
  2. Pembuatan proposal: Setelah kebutuhan diidentifikasi, proposal dibuat untuk proyek tertentu. Proposal ini biasanya mencakup informasi tentang biaya proyek, manfaat, dan potensi risiko.
  3. Prioritas dan pemilihan proyek: Proposal ditinjau dan dievaluasi, dan proyek diprioritaskan berdasarkan faktor-faktor seperti efektivitas biaya, manfaat potensial, dan urgensi kebutuhan.
  4. Alokasi pendanaan: Setelah proyek dipilih, pendanaan dialokasikan untuk pelaksanaannya. Pendanaan ini bisa melibatkan kombinasi pendanaan dari pemerintah dan investasi swasta.
  5. Implementasi dan pemantauan: Proyek kemudian diimplementasikan, dan kemajuannya dipantau untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana dan sesuai anggaran.
  6. Evaluasi dan peninjauan: Setelah proyek selesai, dievaluasi dan ditinjau untuk menilai efektivitasnya, dan seluruh proses ditinjau untuk meningkatkan langkah selanjutnya.

Dalam beberapa kasus, proses tersebut dapat mencakup langkah-langkah tambahan, seperti perencanaan bisnis atau studi kelayakan, dan dimasukkannya hasil konsultasi publik. Capital Investment Planning dalam pemerintahan biasanya melibatkan sejumlah pihak yang berbeda, termasuk:

  1. Pejabat pemerintah: Pejabat terpilih seperti walikota dan gubernur, serta pejabat yang ditunjuk seperti pimpinan perangkat daerah, yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan mengalokasikan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
  2. Perencana dan insinyur: Perencana dan insinyur bertanggung jawab untuk mengembangkan proposal untuk proyek tertentu dan memberikan keahlian teknis pada desain dan implementasi proyek.
  3. Pakar keuangan: Pakar keuangan, seperti analis anggaran dan perencana keuangan, bertanggung jawab untuk mengevaluasi efektivitas biaya proyek yang diusulkan dan mengidentifikasi sumber pendanaan potensial.
  4. Konsultan dapat direkrut untuk memberikan keahlian khusus atau untuk melakukan studi kelayakan atau jenis analisis lainnya.
  5. Mitra sektor swasta: Mitra sektor swasta, seperti kontraktor dan pengembang, dapat terlibat dalam pelaksanaan proyek atau dapat menyediakan pendanaan melalui kemitraan publik-swasta.
  6. Masyarakat: Masyarakat dilibatkan dalam konsultasi publik mengenai keputusan CIP, melalui pertemuan publik, survei online, dan bentuk keterlibatan lainnya, untuk mengumpulkan umpan balik dan memastikan bahwa investasi sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Keterlibatan masing-masing pihak dapat bervariasi tergantung pada ukuran dan ruang lingkup proyek, regulasi, dan pedoman lain yang telah dibuat.

Selasa, 01 Maret 2022

Masuk ke Jaman Metaverse

Di linimasa saya banyak berseliweran mengenai perkembangan jagad anyar yang disebut sebagai metaverse. Konon, awal mula dari metaverse adalah pembuatan platform virtual dengan efek 3 dimensi yang tujuannya adalah untuk melakukan hubungan sosial, salah satunya melalui komunikasi 2 arah yang interaktif.

Dalam 2 tahun terakhir banyak yang mengalami cara baru bersekolah, bekerja, bertemu dengan orang, yaitu melalui video conference (Zoom, Google Meet, Discord, Microsoft Teams, Cisco Webex, dll). Dengan melihat layar datar, kita bisa melihat kondisi lawan diskusi yang menyalakan kamera dari tempat lain menggunakan perangkatnya. Belum lagi teknologi pertemuan dan kolaborasi 3D semacam Microsoft Hololens, yang biayanya belum bisa terjangkau oleh orang awam.

Metaverse memiliki ketergantungan terhadap sistem komputer dan jaringan yang harus selalu terhubung dan bisa diakses setiap saat. Jalannya metaverse sangat ditentukan oleh adanya perangkat yang menyala terus menerus yang memerlukan sumber daya dari universe. Perangkat keras, orang yang mengelola, catu daya listrik, dan lainnya.

Saya membayangkan orang membeli NFT di platform tertentu dan ada kondisi yang menyebabkan sistem down atau server tidak dapat diakses secara permanen, dan catatan transaksi atas pembelian itu lenyap, maka untuk mengembalikan akan lebih sulit, dan jauh di masa depan akan susah ketika para arkeolog mencoba mencari sisa-sisa peradaban jaman sekarang. Bandingkan dengan sisa-sisa peradaban kuno ribuan tahun lalu yang masih ada tersisa fisiknya.

Belum lagi nanti akan ada banyak penyedia layanan metaverse, sehingga menjadi multi-metaverse yang masing-masing akan menjual kelebihan-kelebihan fitur dan layanan. Ada banyak layanan yang sepertinya akan terseleksi dan tidak bisa mempertahankan layanannya dan sedikit saja yang bertahan.

Orang yang mengakses metaverse juga butuh asupan energi melalui makanan, juga pakaian, dan tempat tinggal. Boleh lah memanfaatkan metaverse, tetapi jangan lupa bahwa kita juga hidup di universe. Atau jangan-jangan universe yang kita tinggali sekarang adalah metaverse dari universe lain?

Minggu, 08 November 2020

Cara Mengatasi Mesin Diesel Dong Feng Masuk Angin tidak Mau Menyala

Ketika saya pulang kampung, di rumah bapak saya ada mesin diesel Dong Feng R180 8 PK di teras. Tergelitik rasa penasaran, saya mencoba mengengkol untuk menyalakan. Ternyata mesin menyala dengan lancar dalam 1 kali ujicoba engkol. Setelah kurang lebih 2-3 menit, mesin menjadi ngadat dan mati sendiri. Setelah dilakukan pengecekan, rupanya solar di diesel tersebut habis.

Setelah memasukkan 2 liter solar ke tangki, saya mencoba untuk menyalakan kembali. Hasilnya, diengkol berkali-kali tidak mau menyala. Mesin diesel Dong Feng mengalami fenomena yang disebut dengan masuk angin. Kejadian ini terjadi ketika saluran bahan bakar di bosh pump hanya berisi udara. Berikut ini adalah penampakan mesin dieselnya.

Mesin Diesel Dong Feng

Nah, alat yang diperlukan adalah kunci Inggris kecil. Langkah pertama, buka baut yang menghubungkan saluran bahan bakar dari tangki atau filter solar ke bosh pump. Kendorkan saja sampai bahan bakar mengalir keluar dari selang, lalu tutup rapat kembali.


Kemudian, kendorkan baut bosh pump bagian bawah, lalu kemudian putar engkol mesin sampai solar keluar, lalu kencangkan kembali.

Bosh pump Dong Feng

Setelah itu kendorkan saluran di ujung bosh pump satunya yang ada di sebelah atas (ditunjukkan panah hijau di gambar bawah), lakukan pemutaran mesin dengan engkol sampai solar keluar, setelah itu kencangkan.


Setelah langkah-langkah itu dilakukan, maka udara di saluran bahan bakar sudah hilang digantikan solar, lalu nyalakan diesel seperti biasa.

Kamis, 29 Oktober 2020

Paradoks Sumpah Pemuda: Sebuah Pengandaian di Tahun 2020

Kongres Pemuda II diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928. Terjadi kurang lebih 1 dekade sesudah terjadinya pademi flu Spanyol. Sehingga protokol pertemuan sudah tidak relevan dengan wabah yang terjadi lama. Saya pastinya tidak akan meragukan semangat para pendahulu kita yang waktu itu masih pemuda dalam mengobarkan semangat juang.

Saya kemudian tergelitik membayangkan apabila ada kongres mengatasnamakan pemuda yang dijalankan di tahun 2020 ini oleh orang-orang yang berbeda dengan semangat yang berbeda pula. Pertama, panitia pastinya sudah mempersiapkan kegiatan ini jauh hari sebelumnya, tidak hanya awal tahun, tetapi bisa tahun sebelumnya. Atau karena kebiasaan procrastination, malah bisa jadi baru persiapan sebulan atau seminggu sebelumnya.

Jika kemungkinan Kongres Pemuda II di tahun 1928 dilaksanakan dengan patungan biaya di antara pemuda, lain halnya dengan tahun 2020. Para pemuda kemungkinan akan mencari sumber dana melalui biaya kontribusi acara dari peserta, mencari sponsor swasta, kemudian tidak lupa juga mengajukan proposal ke Pemerintah. Panitia nasional mengajukan ke Kementerian Pemuda, peserta di daerah memperoleh bantuan sosial/hibah dari APBD untuk keperluan tiket, uang saku dan biaya kontribusi.

Rencana susunan acara kurang lebih seperti ini.

26 Oktober 2020
14.00 - 18.00: checkin dan registrasi peserta
19.00 - 21.00: pembukaan dan makan malam

27 Oktober 2020
08.00 - 17.00: kongres hari ke-1

28 Oktober 2020
08.00 - 16.00: kongres hari ke-2
16.00 - 17.00: penutupan

29 Oktober 2020
08.00 - 12.00: checkout dan kembali ke daerah masing-masing

Saya tidak akan membahas sampai detail mengenai jam coffee break maupun waktu ISHOMA.

Rupanya, awal tahun 2020 terjadi pandemi COVID-19 yang menyebabkan kegiatan pertemuan harus dilakukan secara terbatas dengan protokol ketat. Hal ini menimbulkan kegaduhan dan tarik ulur di antara pemuda yang akan menjadi peserta. Ada yang minta untuk ditunda karena alasan protokol kesehatan, ada yang minta tetap untuk dilaksanakan. Akhirnya, yang disepakati adalah kegiatan ini tetap dilaksanakan.

Alasannya sepele, kalau tidak dilaksanakan, nanti tahun 2021 tidak akan diberikan bantuan hibah oleh Pemerintah, karena dianggap tidak mampu menyerap anggaran tahun 2020. Selain itu, uang muka yang dibayarkan ke hotel tidak dapat ditarik kembali alias hangus apabila tidak dipergunakan. Pertemuan kemudian disepakati akan dilakukan secara offline di Jakarta, namun bagi peserta yang tidak bisa hadir, bisa bergabung melalui Zoom dan mengikuti streaming di Youtube.

Akhirnya, hari yang dinanti itu pun tiba. Para peserta datang tanggal 26, masuk ke penginapan, dilakukan seremonial pembukaan oleh Menteri Kepemudaan melalui Zoom. Tanggal 27, disepakati bahwa kongres cukup dilaksanakan 1 hari, tanggal 28 peserta bisa jalan-jalan di Jakarta, belanja oleh-oleh untuk dibawa ke daerah masing-masing. Kesimpulan kongres sudah diumumkan tanggal 27, tetapi karena menyangkut pertanggungjawaban penggunaan dana, maka surat kesepakatan bersama ini dibuat tertanggal 28.

Yang tidak diketahui, beberapa peserta merupakan anggota intelijen yang menyamar, karena ada indikasi dan kecurigaan di dalam kongres ini terdapat upaya makar. Namun, peserta yang tadinya besemangat dan bergelora dengan idealismenya, menjadi adem dan tenang setelah uang transport dibagikan, 

Demikianlah imajinasi saya. Itulah mengapa saya menulis ini bukan di tanggal 28, namun di tanggal 29, yaitu ketika para peserta imajiner itu sudah pulang, sebagian peserta dari luar Jawa rupanya ada yang melanjutkan jalan-jalan ke Bandung dan Jogja karena long weekend.

Apa yang ada di imajinasi Anda?

Minggu, 04 Oktober 2020

Sebuah Usulan Solusi Padamnya Api Abadi Mrapen

Beberapa hari terakhir muncul pemberitaan di media massa yang menyatakan bahwa api abadi di Mrapen padam sudah lebih dari seminggu. Dalam benak saya, saya membayangkan kejadian imajiner seperti ini.

"Wah, kok genine mati. Ono korek ra?" kata salah seorang petugas.

Dengan berbekal korek, petugas berupaya untuk menyalakan kembali api abadi itu, namun apa daya bahan bakarnya telah habis. Tidak ada bau gas sama sekali!

Sumber: Detik

Dalam pikiran saya, api abadi Mrapen tidak seabadi itu. Konon, kalau iseng, kalau pas apinya kecil, ditiup juga mati, lalu bisa dinyalakan lagi dengan korek. Ini dari salah satu klaim cerita teman saya yang sekitar 17 tahun lalu pernah mematikan api abadi Mrapen tersebuh sehabis kunjungan dinas ke Pemda Grobogan. Menurut yang disampaikan ke saya saat itu, dia iseng meniup. Eh, malah mati. Panik! Untung bisa dinyalain kembali dengan korek, entah korek siapa.

Sayangnya, kejadian kali ini adalah matinya terlalu lama, berhari-hari, sehingga akan menjadi sulit untuk ditutup-tutupi. Dan, meledaklah pemberitaan di media. Mungkin juga kejadian padamnya api abadi tersebut sering terjadi, hanya saja tidak ada yang berani membicarakan di medsos. Dan sudah mulai muncul artikel-artikel membahas hal gaib mengenai "pertanda".

Berhubung saya orang Teknik, saya gak mau membahas hal gaib tersebut, tetapi tergelitik untuk mencoba membuat simulasi "api abadi". Asumsi yang akan saya gunakan adalah dengan menggunakan bahan bakar LPG dengan tabel konversi sebagai berikut.

Sumber: elgas.com.au

Nah, tinggal kita sepakati, kita mau menggunakan kompor dengan ukuran seberapa. Saya sekali lagi menggunakan asumsi bahwa kita akan menyalakan "api abadi" dengan tungku, dengan seukuran kompor standar dengan kemampuan panas 14.000 BTU/jam. Dengan konsumsi tersebut, maka tungku akan memerlukan bahan bakar sebanyak 14.000 ÷ 46.452 ≈ 0,3 kg per jam.

Sumber: Youtube

Jika Pertamina setuju untuk menjadi sponsor api abadi, maka tangki LPG dengan muatan 15.000kg akan mampu untuk memberikan nyala api selama 15.000 ÷ 0,3 = 50.000 jam atau setara dengan 2.083,33 hari atau 5,7 tahun. Sumbangan satu tangki elpiji untuk setiap 5 tahun seharusnya angka yang kecil untuk Pertamina. Kalau mau pakai APBD Provinsi Jateng, beli 1 tangki menggunakan kode rekening 5.1.02.01.01.006 Belanja Bahan Bakar Minyak/Gas (sumber: Permendagri 90/2019), baru isi ulang di periode Gubernur berikutnya.

Bagaimana dengan yang sudah terlanjur menganggap bahwa api abadi Mrapen ini adalah api yang sakral? Ya tinggal tanya ke masyarakat atau organisasi yang mungkin saat ini masih menyalakan obor atau suluh dengan sumber api dari Mrapen tersebut, kalau masih nyala tinggal perbaiki lokasi api abadi tersebut, buat instalasi gas, libatkan PGN dan Pertamina. Setelah itu apinya di-copy paste ke Mrapen. Atau kalau tidak ada, ya cari sumber api alami, misal ambil dari bara batu kawah gunung mana, atau mengambil sumber api alami dari petir, mumpung masih musim layang-layang. Bikin upacara khusus agar nampak elegan, namun jangan lupa cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker.

Alternatif bahan bakar lainnya adalah menggunakan gas terbarukan yang diolah dari toilet umum pengunjung Api Abadi Mrapen. Tetapi saya tidak mau membahas lebih lanjut dan berandai-andai, karena saya belum menemukan hitung-hitungan energinya dan belum bisa mensimulasikan berapa orang yang harus buang hajat per hari agar api tetap abadi.

Kalau itu masih tidak berhasil, misal BUMN gak mau bantu, saya masih ada kompor gas di gudang yang masih bagus, ada 1 tabung elpiji 12 kg yang nganggur. Bisa kontak japri ke saya, nanti saya pinjami. Pengelola tinggal modal sedikit beli selang dan regulator, karena saya tidak memiliki stock regulator elpiji yang nganggur. Oh ya, untuk menyalakan, nanti saya kasih korek, tidak usah dikembalikan. Sudah menjadi kodrat gaib, korek, sekali dipinjam juga gak akan pernah kembali.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Hidup Terlalu Singkat Untuk Mengalami Semuanya

Berdasarkan pengalaman saya, setiap hari setidaknya saya hanya mampu melakukan beberapa tugas atau kegiatan, katakanlah 3-4 kegiatan. Jika katakanlah umur kita hanya ada beberapa puluh tahun, maka jumlah hal yang bisa dilakukan pun sangat terbatas. Itu artinya, kita tidak akan memiliki waktu yang cukup dalam 1 kali masa hidup untuk mengalami pengalaman yang dialami oleh semua orang.

Nah, yang sering jadi persoalan adalah ketika kita ingin memberikan masukan terhadap sesuatu, lalu diberikan pertanyaan dengan, kalimat kurang lebih seperti, "Kamu seharusnya jangan ikut komentar begitu, memangnya kamu sudah pernah mengalami hal begini atau begitu?"

Manusia memiliki kemampuan yang disebut dengan belajar sosial / vicarious learning, di mana kita bisa melakukan observasi dengan mengamati apa yang dialami orang lain. Nah bagaimana belajar sosial ini bisa terjadi? Manusia juga merupakan makhluk simbolik yang mampu untuk menterjemahkan sesuatu ke dalam simbol-simbol tertentu, seperti gambar, suara, gerakan dan lainnya. Dengan melihat, membaca, mendengar apa yang dialami orang lain, kita sedikit atau banyak akan memiliki bela rasa, sehingga secara pikiran dapat ikut merasakan apa yang dirasakan dari pengalaman orang lain itu.

Hanya saja, sebaiknya kemampuan seperti ini jangan dieksploitasi secara ekstrim, karena pengalaman dari belajar sosial yang sangat kuat, kadang bisa menyebabkan kita melebur dan menjadi imitasi dari peran yang dibagikan, baik secara sadar maupun di bawah sadar. Yang bisa berakibat buruk adalah ketika kita terseret ke dalam sesuatu pemikiran yang tidak baik, yang merugikan, baik bagi kita maupun bagi orang lain.

Ketika saya melihat sesuatu yang menyenangkan yang dialami orang lain, kadang muncul pertanyaan, "kok saya tidak bsia mengalami hal seperti itu ya?" Di sisi lain, ketika kita melihat suatu kemalangan yang dialami orang lain, kadang juga muncuk pertayaan, "Apakah dalam hidup saya ini, suatu saat saya juga harus mengalami hal seperti itu?"

Jangan takut kehilangan sesuatu karena adanya sebagian besar hal yang tidak bisa kita alami dalam hidup kita. Tetap berani untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar kita, untuk melihat apa yang bisa dialami tanpa harus mengalami secara langsung.

Kamis, 19 Maret 2020

Kamu itu Punya Literasi Rendah!


Di dunia yang banjir informasi seperti sekarang, orang harus pintar menentukan mana yang benar-benar merupakan informasi, mana yang merupakan derau (noise). Pada akhirnya, banyak yang akan terjebak dengan tuduhan 'rendahnya literasi', padahal kemungkinan besar belum tentu demikian.

Menurut artikel di Forbes, rata-rata orang dewasa memiliki kecepatan membaca adalah 300 kata per menit. Misal membaca 20 artikel sehari dengan panjangnya 500 kata, maka kita akan akan menghabiskan 33 menit sehari untuk membaca. Sedangkan, kegiatan kita selama 24 jam kan tidak hanya membaca. Ada tidur, mandi, bekerja, dan aktivitas lainnya.

Dengan adanya media pesan instan (Whatsapp, Telegram, dll), serta media sosial (FB, Twitter, Instagram) yang langsung masuk ke handphone kita, maka sadar atau tidak kita akan dijejali informasi yang berlebihan. Pada akhirnya, kemampuan kita memilah informasi sangat dibutuhkan di sini.

Parahnya, banyak rekan saya yang suka memforward informasi, dan ketika informasi itu salah, yang ada adalah klarifikasi dan minta maaf. Untung saja, dari informasi rekan0rekan saya ini tidak mengakibatkan adanya efek hukum terhadap informasi tersebut.

1. Jangan forward informasi apapun kalau hanya membaca judul
Judul dengan isi kadang berbeda, tetntu saja untuk menarik perhatian. Bahkan, isi saja bisa beda dengan kenyataan kalau kita tidak melakukan croscheck dengan referensi yang benar. Dengan forward informasi yang tidak jelas, maka Anda hanya akan membuat noise baru yang akan membingungkan lebih banyak orang.

2. Memiliki jaringan penelaah yang bisa dipercaya
Oke, kan kita tidak bisa menyerap semua informasi. Paling bagus adalah kita memiliki jaringan pertemanan dengan orang-orang yang memiliki kehalian di bidangnya. Sehingga, ketika ada informasi tertentu, kita bisa crosscheck kebenaran informasi tersebut secara akurat, sehingga kita dapat memiliki informasi yang tidaj bertele-tele secara cepat dan tepat.

3. Melakukan blacklist terhadap sumber berita yang tidak valid
Ketika kita membaca suatu berita, dari surat kabar, media online, atau media lainnya, maka kita lama-lama akan mengetahui mana saja yang kebanyakan bohong, dan mana saja yang cenderung memberitakan sesuatu dengan tepat. Saya biasanya akan menghindari informasi yang berasal dari media abal-abal karena lebih banyak clickbait daripada berita yang benar. Meskipun tidak menutup kemungkinan kadang-kadang media mainstreamjuga melakukan hal yang serupa, namun hal itu cukup mengurangi kita dalam terpapar misinformasi.

4. Perbanyak baca buku yang bermanfaat
Buku-buku juga banyak yang merupakan noise, agar lebih pintar paling bagus baca jurnal atau literatur ilmiah yang memiliki referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tujuannya untuk hiburan, buku cerita fiksi bagus untuk dibaca, karena sejak awal sebelum membaca, kita sendiri sudah tahu bahwa itu fiksi belaka, sehingga tidak akan tercampur antara fiksi dan kenyataan.

Referensi:

Kamis, 27 Februari 2020

Menghadapi Virus Corona COVID-19

Sebelum menanggapi, mohon dicatat sebagai disclaimer bahwa saya tidak punya background bidang kesehatan, namun mencoba untuk memahami mengenai persebaran virus COVID-19 beberapa waktu terakhir ini dari kacamata orang awam kesehatan.


Pertama, yang saya pahami virus ini bisa menyebar dari manusia satu ke manusia lain dan sebagian menyebabkan kematian dengan prosentase yang cukup besar dibandingkan dengan flu. Kedua, sampai saat ini belum ada vaksin yang sesuai untuk menanggulangi virus ini. Ketiga, sudah ada pasien yang dinyatakan sembuh. Keempat, udara kemungkinan besar bisa menjadi media persebaran virus ini.

Langkah pemerintah China dan pemerintah negara lain yang melakukan isolasi kota-kota tertentu adalah untuk memperlambat persebaran virus ini, sampai bisa ditemukan obatnya. Memperlambat, namun diyakini bahwa lambat atau cepat, virus ini akan tersebar ke seluruh dunia. Saya termasuk yang mempercayai hipotesa bahwa satu orang dengan orang yang lain di seluruh dunia ini saling berteman dengan maksimal 7 level. Kemungkinan besar juga pernah saling bersalaman dengan tingkat yang cukup dekat. Misal saya pernah salaman dengan A, A salaman dengan B, lalu B salaman dengan C. Jadi, antara saya dan bersalaman C di tingkat 3. Belum lagi kalau A pernah salaman dengan C, berarti hanya di tingkat 2 saja. Sehingga bisa disimulasikan persebarannya. Belum lagi kondisi virus ini masih sulit terdeteksi, apalagi jika sedang dorman.

Penyemprotan disinfektan sepertinya juga bersifat mengurangi, bukan meniadakan. Saya pernah menyemprotkan obat nyamuk di ruangan dengan jumlah semprotan cukup banyak. Satu jam kemudian, saya masuk ke ruangan itu, rupanya masih ada 1 atau 2 nyamuk berkeliaran. Sepertinya nyamuk ini sempat berada di tempat tersembunyi yang tidak terjangkau oleh obat nyamuk yang saya semprotkan ini. Kalau dipikir, nyamuk ini adalah hewan yang terlihat mata, tidak seperti virus yang kita tidak tahu tanpa menggunakan mikroskop yang canggih.

Semoga kita semua diberikan kekebalan tubuh yang bagus untuk bisa menangkal virus ini, dan segera ditemukan obatnya.

Rabu, 25 Desember 2019

Kunjungan Natal ke Los Angeles, USA

Pada tanggal 19 - 23 Desember 2019 saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan singkat ke Los Angeles, California, USA. Perjalanan ini adalah perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan sampai dengan tulisan ini dibuat.

Untuk mengoptimalkan perjalanan, saya menuju Los Angeles dari Denpasar menggunakan China Airlines CI-772 rute DPS-TPE berangkat tanggal 19 Desember 2019 jam 15.45, dilanjutkan dengan CI-8 rute TPE-LAX setelah transit kurang lebih 2 jam di Taiwan. Saya tiba di LAX jam 19.55 waktu setempat, masih tanggal 19 Desember, karena terdapat perbedaan waktu 16 jam antara Denpasar (GMT+8) dan Los Angeles (GMT-8).

Perjalanan cukup lancar, apalagi di penerbangan terdapat fasilitas wifi yang bisa digunakan, sehingga sepanjang perjalanan tetap dapat terhubung dengan rekan-rekan yang ada di darat, dan bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan secara daring.


Cuaca di Los Angeles pada bulan Desember agak dingin dengan suhu antara 9 - 20 Celsius. Di Los Angeles saya berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan dari Indonesia, dan mengikuti perayaan Natal bersama Ikatan Mahasiswa Papua di USA bersama dengan delegasi dari Provinsi Papua.

Perjalanan yang cukup singkat, saya pulang tanggal 23 malam dan tiba di Jakarta pada tanggal 25 siang menggunakan American Airlines AA-193 transit Hong Kong dilanjutkan dengan AA-8913 / CX-777 ke Jakarta. Permasalahan yang paling mendasar dalam perjalanan ini adalah adanya jetlag karena perbedaan zona waktu yang cukup jauh. Saya sendiri baru bisa menyesuaikan diri pada hari yang ke-2 baik saat tiba di Los Angeles maupun setelah tiba di tanah air.

Kamis, 26 September 2019

Studi Banding Pemda dan Bank Indonesia Elektronifikasi Transaksi Penerimaan dan Belanja Daerah

Sebagai salah satu opisboy yang bertugas membuat analisa sistem, merakit software, ngelap server biar kinclong, sekaligus menjaga data tetap utuh dengan dukungan secangkir kopi ditambah KFC original setiap hari, saya tiba-tiba berkesempatan untuk diajak BI Perwakilan Papua bersama Pemerintah Provinsi Papua dalam studi banding Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia terkait dengan elektronifikasi Transaksi Penerimaan dan Belanja Daerah. Perjalanan ini cukup padat, mulai dari tanggal 23 - 28 September dengan mengambil locus di Bandung dan Jakarta. Kunjungan kami lakukan melalui pertemuan dengan Pemda Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, BI KPW Jawa Barat, Pemerintah DKI Jakarta, Bank Indonesia Pusat.


Dari perjalanan beberapa hari ini ada beberapa yang saya tangkap terkait dengan penerimaan dan belanja daerah. Dari sisi belanja, sebagian besar Pemerintah Daerah telah membuat regulasi agar terjadi pengurangan transaksi tunai dalam proses belanja pemerintah. Semua proses belanja diusahakan melalui transfer ke rekening bank, agar penerima uang dapat memperoleh pembayaran secara akurat dan tercatat ke dalam sistem bank.

Nah, di sisi sebaliknya Pemerintah Daerah mencoba menggenjot pendapatan daerah melalui pembayaran non tunai. Ada beberapa keuntungan jika pembayaran dilakukan secara non tunai.

Untuk pembayaran pajak atau retribusi
Masyarakat mudah membayar kewajiban pajak tanpa harus datang ke loket pelayanan, cukup menggunakan kode bayar dan mentransfer melalui kanal pembayaran yang paling mduah dijangkau (transfer ATM, internet banking, mobile banking, dan pembayaran elektronik lainnya)

Untuk layanan barang dan jasa
Layanan barang dan jasa ini adalah layanan yang diberikan wajib pajak kepada masyarakat, misalnya: hotel, restoran, parkir, reklame, dan jasa lain yang menyebabkan adanya kewajiban pajak yang harus dipungut dan disetor oleh penyedia layanan. Dengan tansaksi non tunai, Pemerintah Daerah dapat mengawasi secara akurat transaksi pendapatan daerah yang sudah diterima oleh wajib pajak, sehingga dapat menentukan jumlah pajak yang harus dibayar secara akurat. Selama ini pembayaran pajak daerah seperti hotel dan restoran menggunakan self assesment, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya pelaporan kewajiban pajak yang tidak sesuai. Jika Pemerintah Daerah menyediakan alat untuk tapping transaksi wajib pajak, tentu akan memerlukan investasi teknologi dan peralatan yang tidak sedikit.

Tantangan Regulasi dalam Elektronifikasi Transaksi
Kalau bicara teknologi pasti tidak ada habisnya, namun kita mau kembali lagi kepada regulasi. Ketika Pemerintah Daerah ingin melakukan elektronifikasi transaksi, maka akan ada banyak aturan yang harus ditaati seperti berikut (urutan tidak mencerminkan prioritas).
  1. Peraturan Bank Indonesia
  2. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
  3. Peraturan terkait Pemerintahan Daerah dan Pengelolaan Keuangan Daerah
  4. Peraturan terkait Sistem Pemerintahan berbasis Elektronik (SPBE)
  5. PCI Council (terkait pembayaran dengan kartu)
  6. Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah setempat
Masalahnya, saya menyakini dengan sungguh-sungguh adanya banyak variasi dan duplikasi regulasi yang menyebabkan kesulitan dalam mengeksekusi elektronifikasi transaksi.

Peran Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Adanya disrupsi layanan keuangan konvensional karena munculnya Fintech membuat BPD berada pada posisi sulit. Layanan e-money, e-wallet, P2P lending, dan layanan digital lain di tingkat nasional bisa menekan bisnis Bank Umum secara signifikan. Pada akhirnya, Bank Umum khususnya BUMN akan menekan ke ranah bisnis BPD, yang sudah nyaman mengelola dana kelolaan Pemerintah Daerah. Banyak BUMN yang masuk ke daerah untuk mendapat kue pengelolaan dana APBD. Sementara itu dari bawah, BPD mendapat tekanan dari BPR yang mampu bergerak lebih lincah di kalangan masyarakat tingkat bawah dan menengah.

Tantangan berikutnya adalah jika BPD menjadi biller pajak daerah. BPD harus memiliki sistem pembayaran, di mana transaksi tersebut tentu saja akan menimbulkan biaya baik dari sisi CAPEX maupun OPEX BPD. Hasil dari menyimpan dana kelolaan belum tentu akan bisa menutupi layanan yang diberikan. Biasanya, bank akan mencari penghasilan dalam bentuk fee-based income.

1. Merchant Discount Rate (MDR)
MDR ini tidak diperkenankan dalam proses pembayaran pajak daerah, karena tidak ada satu rupiah pun yang boleh berkurang dari uang yang dibayarkan oleh wajib pajak kepada Pemerintah, sehingga BPD tidak diperkenankan mengambil fee apapun.

2. Fee On Top
Di sini, biller menagih biaya transaksi kepada pembayar pajak, misalnya pajak atau retribusi Rp100.000,00 yang dibayar melalui bank dengan biaya Rp2.500,00 per transaksi, maka total yang dibayarkan oleh wajib pajak adalah Rp.102.500,00. Namun, jika tanpa dasar regulasi yang memadahi, hal ini juga akan menjadi masalah, selain juga akan menyebabkan wajib pajak enggan membayar.

Dalam hal ini, BPD bisa mencari cara untuk memperoleh penghasilan tambahan dari layanan pembayaran non tunai ini. Misal, BPD memberikan kredit kepada wajib pajak yang memiliki transaksi bisnis yang bagus, sehingga memperoleh pendapatan dalam bentuk bunga, atau memberikan layanan tambahan lain yang menambah pendapatan BPD tanpa membebani wajib pajak secara langsung dalam proses pembayaran. Pendapatan tambahan ini yang bisa digunakan untuk menutupi layanan pembayaran pajak dan retribusi non tunai.

"Loophole" Regulasi
Inovasi yang terjadi di dunia keuangan paling sering mendahului regulasi. Untuk orang yang "nekat", mereka akan melakukan suatu kebijakan meskipun secara regulasi belum ada. Misalnya, banyak layanan fintech yang tetap menjalankan bisnisnya, meskipun belum ada regulasi terkait dengan bisnis yang mereka jalankan tersebut. Namun, ada juga inovasi yang mengikuti regulasi yang ada. Terkait inovasi layanan Pemerintah, memang sebaiknya harus mengikuti rambu-rambu yang ada, namun jika ada aksi yang bersifat ragu-ragu, misalnya karena tumpang tindih peraturan, bisa duduk bersama dengan stakeholder untuk memastikan bahwa semua regulasi dalam inovasi tersebut komplian.

Sebelumnya saya pikir ini akan menjadi perjalanan studi banding biasa, namun setelah menjalaninya, ternyata saya menemukan banyak hal yang tidak terduga yang menjadi concern dalam pengembangan Teknologi Informasi, khususnya dalam mendukung Pemerintah Daerah menggenjot pendapatan asli daerah dan juga menjaga agar transaksi pendapatan dan belanja dapat dipertanggungjawabkan dengan benar. Semoga hasil perjalanan ini dapat segera kami eksekusi menjadi inovasi.