Senin, 18 Agustus 2014

Review Headphone NoiseHush i7 Active Noise-cancelling

Dalam beberapa waktu terakhir, saya mengamati beberapa produk headphone dengan fitur Noise-cancelling. Saya sebenarnya mengidamkan memiliki Bose QuietComfort 15 Acoustic Noise Cancelling, namun apa daya kantong tidak memenuhi syarat, karena harganya di Indonesia adalah Rp.6.100.000,-. Saat di Singapura bulan Juli 2014 kemarin, di Bugis Junction saya masuk ke toko headphone, di situ dibanderol 4 jutaan, namun saat itu juga kantong mepet dan saya sedikit menyesal karena tidak jadi membelinya. Terakhir, awal Agustus waktu perjalanan dari Kuala Lumpur ke Jakarta, saya mampir di lapak headphone di KLIA2, namun harganya juga setara dengan harga Jakarta, sehingga saya batal membeli.

Menuju ke Jayapura, saya ke Mal Jayapura dan di toko yang menjual Apple, mereka menjual Audio-Technica ATH-ANC7b QuietPoint yang dibanderol Rp. 2,6 jutaan. Lebih murah di Jayapura, karena di Jakarta harganya 2,7 juta. Sudah hampir tergoda dan mau menebus, kok rasanya sayang, karena nanggung. Nambah nabung sedikit lagi bisa ambil si Bose. Namun, kebutuhan (baca: keinginan) untuk mendapatkan ketenangan dengan headphone noise-cancel ini tinggi, karena lingkungan kiri kanan yang agak bising.

Tanpa diduga, waktu mengakses website, ada iklan mengenai NoiseHush i7, saya membaca sekilas di Amazon dan melihat review, katanya cukup bagus untuk pemula. Harganya di toko online luar negeri dibanderol harga normal US$ 99 dan harga diskon di US$ 51,92. Saya mencari di toko online Indonesia, ternyata ada yang jual di harga Rp.850.000. Daripada pusing menunggu impor dari luar dan mengurus bea cukai, saya langsung menuju ke seller dan membelinya melalui rekening perantara bukalapak, sehingga aman. Barang pun dikirim dari Bandung ke Jayapura, sampai dalam 3 hari.

NoiseHush_i7_Active_Noise-cancelling

Perangkat ini menggunakan baterai AAA sebanyak 2 buah untuk menjalankan fitur noise cancel. Saya mencoba noise cancel tanpa kabel. Fitur noise-cancelling ini menurut penilaian saya berjalan dengan tingkat keberhasilan sebesar 80 persen. Deru dengan suara frekuensi rendah (mesin genset bensin di tempat jauh, kompresor kulkas) menghilang. Suara orang dan gemericik air pancuran di kolam ikan masih kedengaran dengan jelas namun bersih karena deru konstan di sekeliling sudah dihilangkan oleh headphone ini. Menggunakan headphone ini sambil mengetik, suara ketikan keyboard laptop saya nyaris tidak terdengar.

Untuk audio, karena saya termasuk awam soal ini. Namun sebagai gambaran, saya pernah mendengar suara dari headphone lain yang menurut saya lebih bagus dari ini. Setelah kutak-katik equalizer di pemutar musik saya, saya mendapatkan kualitas suara yang bagus sesuai harapan saya. Yang paling penting, meskipun tetangga sebelah menyalakan mesin genset yang menderu, saya bisa bekerja dengan tenang.

Rabu, 16 Juli 2014

Melewatkan Hari di Kota Ombak

Kota Ombak adalah sebutan masyarakat secara umum untuk Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Disebut demikian karena kota ini terletak di pinggiran laut dengan deburan ombak yang cukup keras untuk didengar. Kabupaten Sarmi ini bisa ditempuh dengan 7 jam perjalanan dari Kota Jayapura dengan menggunakan mobil rental atau sering disebut sebagai taksi. Armada mobil rental yang ke Sarmi ini adalah mobil Toyota Innova yang sudah dimodifikasi dengan diganti ban yang lebih besar untuk dapat menyusuri jalan yang terkadang mulus dan terkadang juga berlubang, dan ada juga jalan yang berlumpur karena belum diaspal. Kalau boleh dikatakan, perjalanan ini mirip dengan rute perjalanan saya dari Puruk Cahu ke Palangkaraya beberapa tahun silam.

Jarak antara Kota Jayapura dan Kabupaten Sarmi adalah sekitar 300 km. Selain menggunakan jalan darat, ada enerbangan yang dilayani Susi Air. Kami sebenarnya sudah sempat membeli dan menerbitkan tiket Susi Air ini secara online untuk rute Sentani (DJJ) – Sarmi (ZRM). Setelah kami memperoleh tiket, kami dikontak pihak Susi Air bahwa penerbangan untuk ke Sarmi ditiadakan, sehingga kami beralih menggunakan armada darat. Biaya sewa kendaraan ini untuk sekali jalan adalah Rp.1.500.000,-. Kami berangkat hari Minggu malam (13/7) pukul 22.00 WIT dan tiba di Sarmi pukul 05.00 WIT.

Keder_Sarmi

Di tengah perjalanan, kami berhenti sebentar karena tim kami, Dahlan dan Bruri serta kru kendaraan akan melakukan sahur. Kami berhenti di daerah Keder, yang berjarak sekitar 1,5 jam dari Sarmi. Kami sebelumnya sudah membungkus makanan dari Jayapura, karena cuaca di Jayapura hujan deras dan ada info jembatan yang putus, sehingga dikuatirkan kami akan terjebak di jalan dan tidak tiba tepat waktu di warung untuk sekedar mampir makan sahur. Namun, perjalanan kami ternyata cukup lancar, bahkan setiba kami di Sarmi, final Piala Dunia Sepak Bola 2014 baru saja dimulai.

Bappeda_Sarmi

Perjalanan kami dari Yogyakarta ke Sarmi adalah dalam rangka Pelatihan Pembuatan Website yang diselenggarakan oleh Bappeda Kabupaten Sarmi. Di dalam pelatihan yang diikuti oleh kurang lebih 15 staf Bappeda Kabupaten Sarmi selama 5 hari ini, Seluruh staf akan diajak untuk membuat website mulai dari praktek proses pendaftaran domain dan hosting, serta proses manajemen konten di website pribadi yang sudah didaftarkan masing-masing peserta.

Kamis, 10 Juli 2014

Apa Arti Kata Sahabat

Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, arti dari kata sahabat adalah sebagai berikut.

sa·ha·bat n kawan; teman; handai: ia mengundang -- lamanya untuk makan bersama-sama di restoran;
-- dekat sahabat karib; -- karib sahabat yg sangat erat (baik); teman yg akrab: dia adalah -- karib kakakku; -- kental sahabat karib;
ber·sa·ha·bat v 1 berkawan; berteman: jangan - dng orang jahat; 2 menyenangkan dl pergaulan; ramah: ia sangat -;
per·sa·ha·bat·an n perihal bersahabat; perhubungan selaku sahabat: - kedua orang itu telah berjalan bertahun-tahun;
mem·per·sa·ha·bat·kan v menjadikan bersabahat; memperhubungkan supaya bersahabat; memperkenalkan (dng)

Alasan saya membahas masalah ini adalah, karena banyak rekan-rekan saya yang saling berantem, baik melalui media sosial di Internet, maupun dalam pergaulan langsung, gara-gara peristiwa pilpres 2014 ini. Bahkan, saya dengar di berita surat kabar bahwa ada pertumpahan darah (luka-luka) hanya karena beda calon presiden saja.

IMG-20140710-WA006

Pendukung yang terlalu fanatik ini akhirnya menjadi tidak rasional, bahkan sampai membawa pencapresan ini ke tingkat ‘religius’, dengan mengatakan bahwa pendukung pihak lawan adalah orang kafir, berdosa, dan lain sebagainya. Untuk itu sebaiknya kita kembali ke keadaan semula, bahwa pemilihan presiden ini adalah untuk kebaikan bangsa, dan kebaikan bangsa ini hanya akan terjadi jika terjadi kesetiakawanan satu sama lain.

Waktu saya kuliah Filsafat Pancasila di kampus, dalam sebuah diskusi di kelas saya melontarkan kata ‘perang’ ketika dosen bertanya bagaimana cara memupuk kesetiakawanan. Perang akan menimbulkan rasa senasib sepenanggungan, sehingga satu sama lain akan saling bekerja sama dan akan terjadi kompetisi yang konstruktif. Salah satu syarat perang adalah adanya musuh bersama. Jika dulu perang adalah terkait dengan saling serang dengan senjata, saat ini perang lebih ke arah ideologi dan ekonomi. Banyak negara berkembang, termasuk kita, terjajah salah satunya di sektor ekonomi, namun karena tidak ada peringatan agar waspada, sehingga generasi sekarang di bangsa ini menjadi lengah dan lemah.

Naluri dan hasrat bersaing dalam diri manusia adalah hal yang alami, namun jika itu dibawa ke dalam wawasan yang lebih luas, misalnya dalam wawasan internasional, maka bangsa ini akan cepat menjadi maju dan berdiri di atas kaki sendiri. Namun, jika wawasan itu hanya terbatas, makan bukan hal yang mustahil jika persaingan menjadi hal yang merusak. Semoga sesudah pengumuman presiden baru nanti, bangsa ini menyatukan kembali langkah untuk ke arah yang lebih baik.