Bangun pagi, kami sarapan di Restoran Bunga Toba di depan Hotel Ompu Herti, dengan menggunakan kupon sarapan dari Hotel. Tamu di Hotel Ompu Herti ini juga memperoleh kupon yang bisa ditukar tiket untuk masuk ke Museum Batak di TB Sialahi Center Balige. Selesai sarapan, kami menyewa perahu bebek dengan mesin bertenaga 25 PK untuk berkeliling di tepian Danau Toba. Tarifnya adalah Rp.175.000,- per 30 menit.
Menuju Porsea, kami mampir sebentar di Pasar Balige. Sama seperti pasar pada umumnya, Pasar Balige adalah tempat untuk mencari barang kebutuhan pokok seperti sayuran, daging, dan beberapa barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Namun, bentuk pasar ini cukup unik karena didesain dengan model Huta Batak, atau rumah adat orang Batak.
Di Balige, betor (becak motor) banyak yang menggunakan Vespa sebagai pendorongnya. Kalau bodynya dirawat, sebetulnya betor dengan vespa ini cukup unik dan asyik untuk dikendarai. Namun sepertinya kendaraan ini sudah banyak rusak dimakan usia.
Informasi dari saudara kami yang di Bekasi melalui telepon, salah satu makanan khas Balige yang patut dicoba adalah bakmi Balige. Di depan Pasar Balige ini banyak kedai yang menjual bakmi Balige yang memiliki citarasa khas. Kami mampir di salah satu kedai ini untuk membeli beberapa bungkus bakmi.
Usai sudah pembungkusan bakmi Balige, kami melanjutkan perjalanan ke Porsea selama kurang lebih 30 menit dengan melewati Kecamatan Laguboti. Beberapa desa yang kami lewati, yang saya ingat adalah Desa SIlaen, Tambunan, Huta Gaol, dan beberapa desa yang namanya sama dengan marga orang Batak. Kami pun tiba di tempat saudara di Porsea, lalu mengadakan acara ramah tamah.
Tak lupa, masakan nasional di Tano Batak, saksang, ikan arsik dan makanan lain tersaji dengan lengkap, sambil kami beracara bersama dengan keluarga di Porsea. Semua makanan yang disajikan pada dasarnya adalah pedas, sehingga anak-anak yang tidak kuat makan pedas disiapkan ikan goreng untuk lauk makan mereka.
Selesai acara, kami pamit kembali ke Balige. Dalam perjalanan, tiba-tiba kami melihat tanda lokasi makam DR. Ludwig Ingwer Nommensen, seorang dari Jerman (dulunya Denmark), yang mewartakan Injil di Tanah Batak. Kami pun menyempatkan diri untuk mampir dan mengunjungi makam tersebut.
Selesai ziarah, kami pulang kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan perjalanan kami berikutnya.
NB: Tulisan ini merupakan rangkaian perjalanan saya dari Jayapura - Medan - Toba - Samosir - Kuala Lumpur - Jogja
Sabtu, 13 September 2014
0 komentar:
Posting Komentar