Kamis, 19 Maret 2020

Kamu itu Punya Literasi Rendah!


Di dunia yang banjir informasi seperti sekarang, orang harus pintar menentukan mana yang benar-benar merupakan informasi, mana yang merupakan derau (noise). Pada akhirnya, banyak yang akan terjebak dengan tuduhan 'rendahnya literasi', padahal kemungkinan besar belum tentu demikian.

Menurut artikel di Forbes, rata-rata orang dewasa memiliki kecepatan membaca adalah 300 kata per menit. Misal membaca 20 artikel sehari dengan panjangnya 500 kata, maka kita akan akan menghabiskan 33 menit sehari untuk membaca. Sedangkan, kegiatan kita selama 24 jam kan tidak hanya membaca. Ada tidur, mandi, bekerja, dan aktivitas lainnya.

Dengan adanya media pesan instan (Whatsapp, Telegram, dll), serta media sosial (FB, Twitter, Instagram) yang langsung masuk ke handphone kita, maka sadar atau tidak kita akan dijejali informasi yang berlebihan. Pada akhirnya, kemampuan kita memilah informasi sangat dibutuhkan di sini.

Parahnya, banyak rekan saya yang suka memforward informasi, dan ketika informasi itu salah, yang ada adalah klarifikasi dan minta maaf. Untung saja, dari informasi rekan0rekan saya ini tidak mengakibatkan adanya efek hukum terhadap informasi tersebut.

1. Jangan forward informasi apapun kalau hanya membaca judul
Judul dengan isi kadang berbeda, tetntu saja untuk menarik perhatian. Bahkan, isi saja bisa beda dengan kenyataan kalau kita tidak melakukan croscheck dengan referensi yang benar. Dengan forward informasi yang tidak jelas, maka Anda hanya akan membuat noise baru yang akan membingungkan lebih banyak orang.

2. Memiliki jaringan penelaah yang bisa dipercaya
Oke, kan kita tidak bisa menyerap semua informasi. Paling bagus adalah kita memiliki jaringan pertemanan dengan orang-orang yang memiliki kehalian di bidangnya. Sehingga, ketika ada informasi tertentu, kita bisa crosscheck kebenaran informasi tersebut secara akurat, sehingga kita dapat memiliki informasi yang tidaj bertele-tele secara cepat dan tepat.

3. Melakukan blacklist terhadap sumber berita yang tidak valid
Ketika kita membaca suatu berita, dari surat kabar, media online, atau media lainnya, maka kita lama-lama akan mengetahui mana saja yang kebanyakan bohong, dan mana saja yang cenderung memberitakan sesuatu dengan tepat. Saya biasanya akan menghindari informasi yang berasal dari media abal-abal karena lebih banyak clickbait daripada berita yang benar. Meskipun tidak menutup kemungkinan kadang-kadang media mainstreamjuga melakukan hal yang serupa, namun hal itu cukup mengurangi kita dalam terpapar misinformasi.

4. Perbanyak baca buku yang bermanfaat
Buku-buku juga banyak yang merupakan noise, agar lebih pintar paling bagus baca jurnal atau literatur ilmiah yang memiliki referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tujuannya untuk hiburan, buku cerita fiksi bagus untuk dibaca, karena sejak awal sebelum membaca, kita sendiri sudah tahu bahwa itu fiksi belaka, sehingga tidak akan tercampur antara fiksi dan kenyataan.

Referensi:

Kamis, 27 Februari 2020

Menghadapi Virus Corona COVID-19

Sebelum menanggapi, mohon dicatat sebagai disclaimer bahwa saya tidak punya background bidang kesehatan, namun mencoba untuk memahami mengenai persebaran virus COVID-19 beberapa waktu terakhir ini dari kacamata orang awam kesehatan.


Pertama, yang saya pahami virus ini bisa menyebar dari manusia satu ke manusia lain dan sebagian menyebabkan kematian dengan prosentase yang cukup besar dibandingkan dengan flu. Kedua, sampai saat ini belum ada vaksin yang sesuai untuk menanggulangi virus ini. Ketiga, sudah ada pasien yang dinyatakan sembuh. Keempat, udara kemungkinan besar bisa menjadi media persebaran virus ini.

Langkah pemerintah China dan pemerintah negara lain yang melakukan isolasi kota-kota tertentu adalah untuk memperlambat persebaran virus ini, sampai bisa ditemukan obatnya. Memperlambat, namun diyakini bahwa lambat atau cepat, virus ini akan tersebar ke seluruh dunia. Saya termasuk yang mempercayai hipotesa bahwa satu orang dengan orang yang lain di seluruh dunia ini saling berteman dengan maksimal 7 level. Kemungkinan besar juga pernah saling bersalaman dengan tingkat yang cukup dekat. Misal saya pernah salaman dengan A, A salaman dengan B, lalu B salaman dengan C. Jadi, antara saya dan bersalaman C di tingkat 3. Belum lagi kalau A pernah salaman dengan C, berarti hanya di tingkat 2 saja. Sehingga bisa disimulasikan persebarannya. Belum lagi kondisi virus ini masih sulit terdeteksi, apalagi jika sedang dorman.

Penyemprotan disinfektan sepertinya juga bersifat mengurangi, bukan meniadakan. Saya pernah menyemprotkan obat nyamuk di ruangan dengan jumlah semprotan cukup banyak. Satu jam kemudian, saya masuk ke ruangan itu, rupanya masih ada 1 atau 2 nyamuk berkeliaran. Sepertinya nyamuk ini sempat berada di tempat tersembunyi yang tidak terjangkau oleh obat nyamuk yang saya semprotkan ini. Kalau dipikir, nyamuk ini adalah hewan yang terlihat mata, tidak seperti virus yang kita tidak tahu tanpa menggunakan mikroskop yang canggih.

Semoga kita semua diberikan kekebalan tubuh yang bagus untuk bisa menangkal virus ini, dan segera ditemukan obatnya.

Rabu, 25 Desember 2019

Kunjungan Natal ke Los Angeles, USA

Pada tanggal 19 - 23 Desember 2019 saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan singkat ke Los Angeles, California, USA. Perjalanan ini adalah perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan sampai dengan tulisan ini dibuat.

Untuk mengoptimalkan perjalanan, saya menuju Los Angeles dari Denpasar menggunakan China Airlines CI-772 rute DPS-TPE berangkat tanggal 19 Desember 2019 jam 15.45, dilanjutkan dengan CI-8 rute TPE-LAX setelah transit kurang lebih 2 jam di Taiwan. Saya tiba di LAX jam 19.55 waktu setempat, masih tanggal 19 Desember, karena terdapat perbedaan waktu 16 jam antara Denpasar (GMT+8) dan Los Angeles (GMT-8).

Perjalanan cukup lancar, apalagi di penerbangan terdapat fasilitas wifi yang bisa digunakan, sehingga sepanjang perjalanan tetap dapat terhubung dengan rekan-rekan yang ada di darat, dan bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan secara daring.


Cuaca di Los Angeles pada bulan Desember agak dingin dengan suhu antara 9 - 20 Celsius. Di Los Angeles saya berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan dari Indonesia, dan mengikuti perayaan Natal bersama Ikatan Mahasiswa Papua di USA bersama dengan delegasi dari Provinsi Papua.

Perjalanan yang cukup singkat, saya pulang tanggal 23 malam dan tiba di Jakarta pada tanggal 25 siang menggunakan American Airlines AA-193 transit Hong Kong dilanjutkan dengan AA-8913 / CX-777 ke Jakarta. Permasalahan yang paling mendasar dalam perjalanan ini adalah adanya jetlag karena perbedaan zona waktu yang cukup jauh. Saya sendiri baru bisa menyesuaikan diri pada hari yang ke-2 baik saat tiba di Los Angeles maupun setelah tiba di tanah air.