Selasa, 01 Maret 2022

Masuk ke Jaman Metaverse

Di linimasa saya banyak berseliweran mengenai perkembangan jagad anyar yang disebut sebagai metaverse. Konon, awal mula dari metaverse adalah pembuatan platform virtual dengan efek 3 dimensi yang tujuannya adalah untuk melakukan hubungan sosial, salah satunya melalui komunikasi 2 arah yang interaktif.

Dalam 2 tahun terakhir banyak yang mengalami cara baru bersekolah, bekerja, bertemu dengan orang, yaitu melalui video conference (Zoom, Google Meet, Discord, Microsoft Teams, Cisco Webex, dll). Dengan melihat layar datar, kita bisa melihat kondisi lawan diskusi yang menyalakan kamera dari tempat lain menggunakan perangkatnya. Belum lagi teknologi pertemuan dan kolaborasi 3D semacam Microsoft Hololens, yang biayanya belum bisa terjangkau oleh orang awam.

Metaverse memiliki ketergantungan terhadap sistem komputer dan jaringan yang harus selalu terhubung dan bisa diakses setiap saat. Jalannya metaverse sangat ditentukan oleh adanya perangkat yang menyala terus menerus yang memerlukan sumber daya dari universe. Perangkat keras, orang yang mengelola, catu daya listrik, dan lainnya.

Saya membayangkan orang membeli NFT di platform tertentu dan ada kondisi yang menyebabkan sistem down atau server tidak dapat diakses secara permanen, dan catatan transaksi atas pembelian itu lenyap, maka untuk mengembalikan akan lebih sulit, dan jauh di masa depan akan susah ketika para arkeolog mencoba mencari sisa-sisa peradaban jaman sekarang. Bandingkan dengan sisa-sisa peradaban kuno ribuan tahun lalu yang masih ada tersisa fisiknya.

Belum lagi nanti akan ada banyak penyedia layanan metaverse, sehingga menjadi multi-metaverse yang masing-masing akan menjual kelebihan-kelebihan fitur dan layanan. Ada banyak layanan yang sepertinya akan terseleksi dan tidak bisa mempertahankan layanannya dan sedikit saja yang bertahan.

Orang yang mengakses metaverse juga butuh asupan energi melalui makanan, juga pakaian, dan tempat tinggal. Boleh lah memanfaatkan metaverse, tetapi jangan lupa bahwa kita juga hidup di universe. Atau jangan-jangan universe yang kita tinggali sekarang adalah metaverse dari universe lain?

Minggu, 08 November 2020

Cara Mengatasi Mesin Diesel Dong Feng Masuk Angin tidak Mau Menyala

Ketika saya pulang kampung, di rumah bapak saya ada mesin diesel Dong Feng R180 8 PK di teras. Tergelitik rasa penasaran, saya mencoba mengengkol untuk menyalakan. Ternyata mesin menyala dengan lancar dalam 1 kali ujicoba engkol. Setelah kurang lebih 2-3 menit, mesin menjadi ngadat dan mati sendiri. Setelah dilakukan pengecekan, rupanya solar di diesel tersebut habis.

Setelah memasukkan 2 liter solar ke tangki, saya mencoba untuk menyalakan kembali. Hasilnya, diengkol berkali-kali tidak mau menyala. Mesin diesel Dong Feng mengalami fenomena yang disebut dengan masuk angin. Kejadian ini terjadi ketika saluran bahan bakar di bosh pump hanya berisi udara. Berikut ini adalah penampakan mesin dieselnya.

Mesin Diesel Dong Feng

Nah, alat yang diperlukan adalah kunci Inggris kecil. Langkah pertama, buka baut yang menghubungkan saluran bahan bakar dari tangki atau filter solar ke bosh pump. Kendorkan saja sampai bahan bakar mengalir keluar dari selang, lalu tutup rapat kembali.


Kemudian, kendorkan baut bosh pump bagian bawah, lalu kemudian putar engkol mesin sampai solar keluar, lalu kencangkan kembali.

Bosh pump Dong Feng

Setelah itu kendorkan saluran di ujung bosh pump satunya yang ada di sebelah atas (ditunjukkan panah hijau di gambar bawah), lakukan pemutaran mesin dengan engkol sampai solar keluar, setelah itu kencangkan.


Setelah langkah-langkah itu dilakukan, maka udara di saluran bahan bakar sudah hilang digantikan solar, lalu nyalakan diesel seperti biasa.

Kamis, 29 Oktober 2020

Paradoks Sumpah Pemuda: Sebuah Pengandaian di Tahun 2020

Kongres Pemuda II diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928. Terjadi kurang lebih 1 dekade sesudah terjadinya pademi flu Spanyol. Sehingga protokol pertemuan sudah tidak relevan dengan wabah yang terjadi lama. Saya pastinya tidak akan meragukan semangat para pendahulu kita yang waktu itu masih pemuda dalam mengobarkan semangat juang.

Saya kemudian tergelitik membayangkan apabila ada kongres mengatasnamakan pemuda yang dijalankan di tahun 2020 ini oleh orang-orang yang berbeda dengan semangat yang berbeda pula. Pertama, panitia pastinya sudah mempersiapkan kegiatan ini jauh hari sebelumnya, tidak hanya awal tahun, tetapi bisa tahun sebelumnya. Atau karena kebiasaan procrastination, malah bisa jadi baru persiapan sebulan atau seminggu sebelumnya.

Jika kemungkinan Kongres Pemuda II di tahun 1928 dilaksanakan dengan patungan biaya di antara pemuda, lain halnya dengan tahun 2020. Para pemuda kemungkinan akan mencari sumber dana melalui biaya kontribusi acara dari peserta, mencari sponsor swasta, kemudian tidak lupa juga mengajukan proposal ke Pemerintah. Panitia nasional mengajukan ke Kementerian Pemuda, peserta di daerah memperoleh bantuan sosial/hibah dari APBD untuk keperluan tiket, uang saku dan biaya kontribusi.

Rencana susunan acara kurang lebih seperti ini.

26 Oktober 2020
14.00 - 18.00: checkin dan registrasi peserta
19.00 - 21.00: pembukaan dan makan malam

27 Oktober 2020
08.00 - 17.00: kongres hari ke-1

28 Oktober 2020
08.00 - 16.00: kongres hari ke-2
16.00 - 17.00: penutupan

29 Oktober 2020
08.00 - 12.00: checkout dan kembali ke daerah masing-masing

Saya tidak akan membahas sampai detail mengenai jam coffee break maupun waktu ISHOMA.

Rupanya, awal tahun 2020 terjadi pandemi COVID-19 yang menyebabkan kegiatan pertemuan harus dilakukan secara terbatas dengan protokol ketat. Hal ini menimbulkan kegaduhan dan tarik ulur di antara pemuda yang akan menjadi peserta. Ada yang minta untuk ditunda karena alasan protokol kesehatan, ada yang minta tetap untuk dilaksanakan. Akhirnya, yang disepakati adalah kegiatan ini tetap dilaksanakan.

Alasannya sepele, kalau tidak dilaksanakan, nanti tahun 2021 tidak akan diberikan bantuan hibah oleh Pemerintah, karena dianggap tidak mampu menyerap anggaran tahun 2020. Selain itu, uang muka yang dibayarkan ke hotel tidak dapat ditarik kembali alias hangus apabila tidak dipergunakan. Pertemuan kemudian disepakati akan dilakukan secara offline di Jakarta, namun bagi peserta yang tidak bisa hadir, bisa bergabung melalui Zoom dan mengikuti streaming di Youtube.

Akhirnya, hari yang dinanti itu pun tiba. Para peserta datang tanggal 26, masuk ke penginapan, dilakukan seremonial pembukaan oleh Menteri Kepemudaan melalui Zoom. Tanggal 27, disepakati bahwa kongres cukup dilaksanakan 1 hari, tanggal 28 peserta bisa jalan-jalan di Jakarta, belanja oleh-oleh untuk dibawa ke daerah masing-masing. Kesimpulan kongres sudah diumumkan tanggal 27, tetapi karena menyangkut pertanggungjawaban penggunaan dana, maka surat kesepakatan bersama ini dibuat tertanggal 28.

Yang tidak diketahui, beberapa peserta merupakan anggota intelijen yang menyamar, karena ada indikasi dan kecurigaan di dalam kongres ini terdapat upaya makar. Namun, peserta yang tadinya besemangat dan bergelora dengan idealismenya, menjadi adem dan tenang setelah uang transport dibagikan, 

Demikianlah imajinasi saya. Itulah mengapa saya menulis ini bukan di tanggal 28, namun di tanggal 29, yaitu ketika para peserta imajiner itu sudah pulang, sebagian peserta dari luar Jawa rupanya ada yang melanjutkan jalan-jalan ke Bandung dan Jogja karena long weekend.

Apa yang ada di imajinasi Anda?