Sabtu, 01 Agustus 2020

Hidup Terlalu Singkat Untuk Mengalami Semuanya

Berdasarkan pengalaman saya, setiap hari setidaknya saya hanya mampu melakukan beberapa tugas atau kegiatan, katakanlah 3-4 kegiatan. Jika katakanlah umur kita hanya ada beberapa puluh tahun, maka jumlah hal yang bisa dilakukan pun sangat terbatas. Itu artinya, kita tidak akan memiliki waktu yang cukup dalam 1 kali masa hidup untuk mengalami pengalaman yang dialami oleh semua orang.

Nah, yang sering jadi persoalan adalah ketika kita ingin memberikan masukan terhadap sesuatu, lalu diberikan pertanyaan dengan, kalimat kurang lebih seperti, "Kamu seharusnya jangan ikut komentar begitu, memangnya kamu sudah pernah mengalami hal begini atau begitu?"

Manusia memiliki kemampuan yang disebut dengan belajar sosial / vicarious learning, di mana kita bisa melakukan observasi dengan mengamati apa yang dialami orang lain. Nah bagaimana belajar sosial ini bisa terjadi? Manusia juga merupakan makhluk simbolik yang mampu untuk menterjemahkan sesuatu ke dalam simbol-simbol tertentu, seperti gambar, suara, gerakan dan lainnya. Dengan melihat, membaca, mendengar apa yang dialami orang lain, kita sedikit atau banyak akan memiliki bela rasa, sehingga secara pikiran dapat ikut merasakan apa yang dirasakan dari pengalaman orang lain itu.

Hanya saja, sebaiknya kemampuan seperti ini jangan dieksploitasi secara ekstrim, karena pengalaman dari belajar sosial yang sangat kuat, kadang bisa menyebabkan kita melebur dan menjadi imitasi dari peran yang dibagikan, baik secara sadar maupun di bawah sadar. Yang bisa berakibat buruk adalah ketika kita terseret ke dalam sesuatu pemikiran yang tidak baik, yang merugikan, baik bagi kita maupun bagi orang lain.

Ketika saya melihat sesuatu yang menyenangkan yang dialami orang lain, kadang muncul pertanyaan, "kok saya tidak bsia mengalami hal seperti itu ya?" Di sisi lain, ketika kita melihat suatu kemalangan yang dialami orang lain, kadang juga muncuk pertayaan, "Apakah dalam hidup saya ini, suatu saat saya juga harus mengalami hal seperti itu?"

Jangan takut kehilangan sesuatu karena adanya sebagian besar hal yang tidak bisa kita alami dalam hidup kita. Tetap berani untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar kita, untuk melihat apa yang bisa dialami tanpa harus mengalami secara langsung.

Kamis, 19 Maret 2020

Kamu itu Punya Literasi Rendah!


Di dunia yang banjir informasi seperti sekarang, orang harus pintar menentukan mana yang benar-benar merupakan informasi, mana yang merupakan derau (noise). Pada akhirnya, banyak yang akan terjebak dengan tuduhan 'rendahnya literasi', padahal kemungkinan besar belum tentu demikian.

Menurut artikel di Forbes, rata-rata orang dewasa memiliki kecepatan membaca adalah 300 kata per menit. Misal membaca 20 artikel sehari dengan panjangnya 500 kata, maka kita akan akan menghabiskan 33 menit sehari untuk membaca. Sedangkan, kegiatan kita selama 24 jam kan tidak hanya membaca. Ada tidur, mandi, bekerja, dan aktivitas lainnya.

Dengan adanya media pesan instan (Whatsapp, Telegram, dll), serta media sosial (FB, Twitter, Instagram) yang langsung masuk ke handphone kita, maka sadar atau tidak kita akan dijejali informasi yang berlebihan. Pada akhirnya, kemampuan kita memilah informasi sangat dibutuhkan di sini.

Parahnya, banyak rekan saya yang suka memforward informasi, dan ketika informasi itu salah, yang ada adalah klarifikasi dan minta maaf. Untung saja, dari informasi rekan0rekan saya ini tidak mengakibatkan adanya efek hukum terhadap informasi tersebut.

1. Jangan forward informasi apapun kalau hanya membaca judul
Judul dengan isi kadang berbeda, tetntu saja untuk menarik perhatian. Bahkan, isi saja bisa beda dengan kenyataan kalau kita tidak melakukan croscheck dengan referensi yang benar. Dengan forward informasi yang tidak jelas, maka Anda hanya akan membuat noise baru yang akan membingungkan lebih banyak orang.

2. Memiliki jaringan penelaah yang bisa dipercaya
Oke, kan kita tidak bisa menyerap semua informasi. Paling bagus adalah kita memiliki jaringan pertemanan dengan orang-orang yang memiliki kehalian di bidangnya. Sehingga, ketika ada informasi tertentu, kita bisa crosscheck kebenaran informasi tersebut secara akurat, sehingga kita dapat memiliki informasi yang tidaj bertele-tele secara cepat dan tepat.

3. Melakukan blacklist terhadap sumber berita yang tidak valid
Ketika kita membaca suatu berita, dari surat kabar, media online, atau media lainnya, maka kita lama-lama akan mengetahui mana saja yang kebanyakan bohong, dan mana saja yang cenderung memberitakan sesuatu dengan tepat. Saya biasanya akan menghindari informasi yang berasal dari media abal-abal karena lebih banyak clickbait daripada berita yang benar. Meskipun tidak menutup kemungkinan kadang-kadang media mainstreamjuga melakukan hal yang serupa, namun hal itu cukup mengurangi kita dalam terpapar misinformasi.

4. Perbanyak baca buku yang bermanfaat
Buku-buku juga banyak yang merupakan noise, agar lebih pintar paling bagus baca jurnal atau literatur ilmiah yang memiliki referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tujuannya untuk hiburan, buku cerita fiksi bagus untuk dibaca, karena sejak awal sebelum membaca, kita sendiri sudah tahu bahwa itu fiksi belaka, sehingga tidak akan tercampur antara fiksi dan kenyataan.

Referensi:

Kamis, 27 Februari 2020

Menghadapi Virus Corona COVID-19

Sebelum menanggapi, mohon dicatat sebagai disclaimer bahwa saya tidak punya background bidang kesehatan, namun mencoba untuk memahami mengenai persebaran virus COVID-19 beberapa waktu terakhir ini dari kacamata orang awam kesehatan.


Pertama, yang saya pahami virus ini bisa menyebar dari manusia satu ke manusia lain dan sebagian menyebabkan kematian dengan prosentase yang cukup besar dibandingkan dengan flu. Kedua, sampai saat ini belum ada vaksin yang sesuai untuk menanggulangi virus ini. Ketiga, sudah ada pasien yang dinyatakan sembuh. Keempat, udara kemungkinan besar bisa menjadi media persebaran virus ini.

Langkah pemerintah China dan pemerintah negara lain yang melakukan isolasi kota-kota tertentu adalah untuk memperlambat persebaran virus ini, sampai bisa ditemukan obatnya. Memperlambat, namun diyakini bahwa lambat atau cepat, virus ini akan tersebar ke seluruh dunia. Saya termasuk yang mempercayai hipotesa bahwa satu orang dengan orang yang lain di seluruh dunia ini saling berteman dengan maksimal 7 level. Kemungkinan besar juga pernah saling bersalaman dengan tingkat yang cukup dekat. Misal saya pernah salaman dengan A, A salaman dengan B, lalu B salaman dengan C. Jadi, antara saya dan bersalaman C di tingkat 3. Belum lagi kalau A pernah salaman dengan C, berarti hanya di tingkat 2 saja. Sehingga bisa disimulasikan persebarannya. Belum lagi kondisi virus ini masih sulit terdeteksi, apalagi jika sedang dorman.

Penyemprotan disinfektan sepertinya juga bersifat mengurangi, bukan meniadakan. Saya pernah menyemprotkan obat nyamuk di ruangan dengan jumlah semprotan cukup banyak. Satu jam kemudian, saya masuk ke ruangan itu, rupanya masih ada 1 atau 2 nyamuk berkeliaran. Sepertinya nyamuk ini sempat berada di tempat tersembunyi yang tidak terjangkau oleh obat nyamuk yang saya semprotkan ini. Kalau dipikir, nyamuk ini adalah hewan yang terlihat mata, tidak seperti virus yang kita tidak tahu tanpa menggunakan mikroskop yang canggih.

Semoga kita semua diberikan kekebalan tubuh yang bagus untuk bisa menangkal virus ini, dan segera ditemukan obatnya.