Dalam sebuah komunitas masyarakat, biasanya akan muncul asumsi-asumsi yang akan membawa pemikiran seseorang dalam komunitas itu menjadi ikut mempercayai dan melaksanakan asumsi tersebut.
Para penjual produk kosmetik di Asia Tenggara kebanyakan menjual melalui pendekatan persuasif, dengan menampilkan bahwa wanita yang cantik adalah orang dengan tubuh yang langsing dan kulit yang putih bersih, dan pria yang tampan adalah yang berbadan kekar dan berhidung mancung. Namun di sebagian Afrika, asumsi yang berkembang adalah, wanita yang cantik adalah yang betubuh besar, karena di Afrika wanita gemuk dianggap sehat, memiliki makanan yang baik, dan pria yang gemuk dianggap berkecukupan. Istri yang gemuk juga merupakan pertanda bahwa sang suami memperhatikan wanita itu.
Di sebagian besar wilayah di dunia, kematian membawa suatu kesedihan yang mendalam. Sedangkan di beberapa tempat, termasuk di sebagian Indonesia, kematian merupakan kegembiraan besar, karena yang meinggal sudah pergi ke alam yang lebih baik, sehingga masyarakat merayakan kematian ini ke dalam suatu pesta yang besar dan meriah.
Tidak ada yang salah dengan asumsi-asumsi tersebut. Namun, kadang pengetahuan mengenai asumsi tersebut diejawantahkan ke dalam dua kubu, yaitu "benar" dan "salah", sehingga memunculkan adanya pertentangan satu dengan yang lain. Ketika kita tidak melakukan asumsi itu, kita bisa dicap bersalah. Parahnya, kadang hal ini sering dimanfaatkan oleh orang untuk mencari keuntungan pribadi. Misalnya, dalam dunia berpolitik, membuat seseorang menjadi benar atau salah di mata masyarakat melalui media massa sering dilakukan untuk mencapai suatu tujuan kekuasaan.
Dalam dunia ekonomi, asumsi bisa digunakan untuk menjual suatu produk dengan keras, dan juga bisa digunakan untuk menjatuhkan kompetitor. Misalnya saja, asumsi cantik putih tadi membuat orang berbondong-bondong ke salon kecantikan berbiaya mahal dan melakukan operasi yang mahal agar dapat terlihat langsing.
Dalam dunia penegakan hukum di Indonesia, yang saya lihat adalah bahwa jika seseorang menjadi tersangka itu sudah dicap bersalah, meskipun pada akhirnya tidak terbukti bersalah. Bahkan, tidak terbukti bersalah pun bisa memunculkan asumsi bahwa ketika menjadi tersangka dia mungkin berkonspirasi dengan aparat penegak hukum. Padahal, belum tentu juga hal itu terjadi, namun karena sudah ada asumsi tersebut, sebagian besar masyarakat akan menilai hal itu ke arah yang tidak baik.
Dalam tatanan sosial budaya, orang di dalam suatu masyarakat yang tidak melakukan adat kebiasaan suku bisa dianggap bersalah, dan kadang membuat seseorang dikucilkan.
Asumsi publik adalah alat yang bisa menyejahterakan, namun juga bisa menjadi senjata yang sangat mematikan. Berhati-hatilah menggunakannya!
Sabtu, 23 Maret 2013
Sabtu, 24 November 2012
Radio SSB Yaesu FT-450D
Meskipun saat ini sudah era digital, namun perangkat SSB masih dipakai untuk menjagkau komunikasi di pedalaman, karena pemakaiannya yang cukup mudah dan tangguh. Kebiasaan saya berada di pedalaman Papua, di tempat yang tidak ada listrik, sinyal GSM, maupun internet, membuat kebutuhan akan penggunaan SSB menjadi tinggi. Beberapa waktu yang lalu, ada rekan saya yang ingin memasang perangkat SSB untuk berkomunikasi di pedalaman, dan saya pun membelikan perangkat Yaesu FT-450D.

Masalahnya, barang ini cukup langka di Indonesia, sehingga harus indent karena harus impor. Setelah menunggu selama 1 bulan, akhirnya paket sampai juga di Papua. Tinggal tambah solar cell dan aki, lalu kalibrasi antena, jadi deh.
Masalahnya, barang ini cukup langka di Indonesia, sehingga harus indent karena harus impor. Setelah menunggu selama 1 bulan, akhirnya paket sampai juga di Papua. Tinggal tambah solar cell dan aki, lalu kalibrasi antena, jadi deh.
Rabu, 24 Oktober 2012
Belajar Ilmu Titen
Di dalam ilmu kejawen mengenal yang namanya ngelmu titen. Hanya saja, saya kurang tahu alasan pembagian watak orang berdasarkan neptu atau kombinasi hari dan pasaran, yang konon katanya dari hasil ilmu titen. Saya hanya ingin membahas mengenai ilmu titen.
Ketika saya mengutarakan yang namanya ilmu titen, jangan pernah berpikiran bahwa ini adalah nujum. Ilmu ini berasal dari mengamati suatu kejadian terus menerus, sehingga bisa membuat suatu kesimpulan tentang suatu hal. Semakin banyak data yang menjadi sumber masukan, atau input, maka hasil dari pengamatan akan cenderung dapat disimpulkan secara benar.
Peramalan cuaca, ekonomi, dan lain-lain biasanya adalah dari hasil penelitian yang terus menerus, yang juga dari hasil ilmu titen. Hanya saja, pengolahan data-data untuk memperoleh hasil peramalan ini menggunakan metodologi statistik yang dicatat dan dirumuskan secara ilmiah.
Sudahkah Anda meneliti dan menyimpulkan sesuatu di sekitar Anda?
Ketika saya mengutarakan yang namanya ilmu titen, jangan pernah berpikiran bahwa ini adalah nujum. Ilmu ini berasal dari mengamati suatu kejadian terus menerus, sehingga bisa membuat suatu kesimpulan tentang suatu hal. Semakin banyak data yang menjadi sumber masukan, atau input, maka hasil dari pengamatan akan cenderung dapat disimpulkan secara benar.
Peramalan cuaca, ekonomi, dan lain-lain biasanya adalah dari hasil penelitian yang terus menerus, yang juga dari hasil ilmu titen. Hanya saja, pengolahan data-data untuk memperoleh hasil peramalan ini menggunakan metodologi statistik yang dicatat dan dirumuskan secara ilmiah.
Sudahkah Anda meneliti dan menyimpulkan sesuatu di sekitar Anda?
Langganan:
Postingan (Atom)