Rabu, 11 Februari 2026

Meta, Integration Hell, dan Mengapa Sistem Canggih Bisa Terasa Patah

Beberapa waktu terakhir ini, saya merasa sedang melakukan "birokrasi digital" hanya untuk mengirim satu pesan atau memvalidasi satu data bisnis di ekosistem raksasa seperti Meta. Sebagai praktisi sistem, saya sering melihat fenomena menarik di Meta, yaitu sebuah perusahaan memiliki engineer terbaik dunia dan infrastruktur paling canggih, namun produknya terasa fragmented.

Pengguna merasa harus melompat dari satu "dunia" ke dunia lain, dari Facebook, WhatsApp, Instagram, Meta Business Suite, Facebook Developer, dengan aturan dan logika yang berbeda-beda. Saya melihat ini adalah gejala klasik dari Integration Hell.

Masalah di Meta (dan banyak organisasi besar lainnya) biasanya bukan di level teknologi, melainkan pada fragmentasi kendali. Dalam dunia manajemen sistem, kita mengenal Conway’s Law, di mana sistem yang dirancang organisasi cenderung mencerminkan struktur komunikasi internal mereka.

Ketika tim Facebook, Instagram, dan WhatsApp bekerja dengan KPI dan struktur data yang berbeda, hasilnya adalah ekosistem yang terasa seperti kumpulan "negara bagian" dengan aturan visa yang rumit, bukan satu benua yang terintegrasi. Lalu, apa pelajarannya bagi kita yang sedang membangun sistem di pemerintahan atau korporasi?

1. Sistem Harus Mengikuti Alur Kerja, Bukan Struktur Organisasi

Kesalahan fatal yang sering terjadi dalam digitalisasi (terutama di sektor publik) adalah membangun aplikasi berdasarkan Struktur Organisasi (SOTK). Ibarat Pemerintah Daerah, jika ada 5 bidang di satu dinas, maka muncul 5 menu atau bahkan 5 aplikasi berbeda.

Seorang System Analyst yang baik harus mampu membalik logika ini. Seharusnya pengguna tidak peduli siapa yang mengelola datanya, tetapi pengguna hanya ingin urusannya selesai dalam satu alur yang logis.

2. Birokrasi Digital vs "Automated Trust"

Mengapa kita masih diminta mengunggah dokumen fisik di sistem yang mengklaim dirinya pintar? Itu tandanya sistem tersebut belum memiliki Governance UX yang matang. Integrasi sejati bukan sekadar menyambungkan API, tapi membangun kepercayaan otomatis antar sistem. Jika Data A sudah divalidasi oleh Sistem X, maka Sistem Y seharusnya tidak perlu bertanya lagi. Inilah inti dari efisiensi tata kelola.

3. Skala vs Kesederhanaan

Tumbuh besar itu mudah, tapi tumbuh besar sambil tetap sederhana adalah seni tingkat tinggi dalam rekayasa sistem. Banyak sistem menjadi monster karena terlalu banyak fitur yang dipaksakan tanpa adanya single source of truth. Menjaga kesederhanaan di tengah kompleksitas membutuhkan pemahaman mendalam tentang integrasi, memastikan bahwa di balik layar yang rumit, pengguna tetap merasakan pengalaman yang mulus.

Pengalaman saya mendampingi berbagai transformasi digital, mulai dari sistem manajemen informasi pusat hingga tata kelola keuangan di  daerah mengajarkan satu hal, yaitu bahwa teknologi hanyalah alat, tapi integrasi adalah pola pikir.

Apakah kita sedang membangun "pulau-pulau aplikasi" yang saling terisolasi, atau kita sedang membangun satu ekosistem yang saling berbicara? Di situlah letak perbedaan antara sistem yang sekadar jalan dengan sistem yang benar-benar memberi solusi. Mari kita berhenti membangun aplikasi, dan mulai membangun integrasi.