Rabu, 27 Juli 2016

Menunggu Presiden Lewat

Pemandangan menarik dalam perjalanan ke kantor hari selasa pagi (27/7) kemarin adalah banyaknya anak-anak di sepanjang Jl. Magelang yang berdiri untuk menunggu presiden lewat.

Jaman saya kecil dulu sangat lumrah anak-anak menunggu Camat, Kepala Dinas, Bupati, Gubernur atau Menteri yang melakukan kunjungan ke wilayahnya dengan persiapan yang bahkan bisa sampai berminggu-minggu. Sekarang, hal itu sudah sangat jarang dilakukan. Kalau mau datang ya datang saja, dan anak buah pejabat yang berkepentingan saja yang sibuk menyiapkan untuk kedatangan pejabat tersebut.

Kegiatan menyambut Presiden bisa dipandang sebagai hal yang positif maupun negatif. Secara positif, anak-anak bisa terhibur dan bisa melihat Presiden lewat dan siapa tahu nanti akan termotivasi dan bercita-cita menjadi seorang presiden. Seseorang yang saya kenal yang akhirnya jadi PNS bercerita bahwa dia ingin menjadi PNS karena waktu kecil melihat mereka datang dengan jip hijau plat merah dan sangat dihormati.

Secara negatif, anak-anak kehilangan jam belajar, kemudian secara sadar atau tidak sadar, anak-anak itu melihat dan terpatri dalam otak mereka bahwa pejabat harus diprioritaskan dan didahulukan di jalan raya, meskipun hal ini memang sudah tertulis di peraturan resmi.

Anak-anak jaman sekarang sebaiknya diberikan sebuah pemahaman dan dilibatkan dalam contoh nyata dalam format yang kreatif, bahwa menjadi pejabat bukan pada konteks untuk mendapat prioritas dan kehormatan, namun lebih menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat untuk membawa masyarakat menjadi lebih sejahtera.

Jumat, 08 Juli 2016

Oleh-oleh Nuoqi Milk Soft Candy

Permen Nuoqi Milk Soft Candy ini kami beli di Dried Food Market di Thailand, permen ini berisi semacam gummy jelly dengan berbagai rasa, yaitu jagung, anggur, stroberi, delima, semangka, dan mangga. Nah, gummy jelly ini dibalut dengan susu putih chewy yang lembut sehingga rasanya enak ketika dikunyah. Untuk packing yang 380 gram isi 100 kami tebus dengan harga 130 THB

Dried Food Market yang dimaksud adalah tempat di pertengahan perjalanan antara Pattaya dan Bangkok, bentuknya adalah sebuah toko oleh-oleh yang mirip dengan toko oleh-oleh di Indonesia yang menjual berbagai makanan kering khas Thailand yang bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Rabu, 29 Juni 2016

Mencari Jasa Laundry Kiloan di Bangkok

Perjalanan keliling sebagian Asia Tenggara seminggu yang lalu memberikan tantangan tersendiri, terutama mengenai bekal yang perlu dibawa untuk keperluan perjalanan. Idealnya, barang yang dibawa haruslah selengkap mungkin, namun juga batasannya adalah kepraktisan dalam berpindah tempat. Barang yang lengkap akan memerlukan ukuran koper yang besar, dan tentu saja akan memberatkan dalam mengangkut ke sana kemari. Kami membatasi bawaan dengan koper dengan ukuran kecil.

Standar perjalanan kami yaitu membawa pakaian secukupnya untuk keperluan 3 - 4 hari, dengan asumsi seperti waktu di Hong Kong, kami memasrahkan baju untuk dicuci di laundry kiloan. Untuk Sio yang masih bayi, kami mencoba menghitung jumlah susu dan diapers dengan seakurat mungkin untuk keperluan 6 hari 5 malam.

Di Singapura, banyak layanan laundry DIY (do it yourself) di mana kita tinggal memasukkan koin uang SGD dan mesin cuci berjalan secara otomatis dan pakaian selesai dengan kering. Karena terlena dengan jalan-jalan di luar, akhirnya selama 3 hari 2 malam itu kami tidak mencuci baju di Singapura, padahal tempatnya hanya 300 meter dari hotel.

Untuk alas kaki, saya tidak membawa sandal, dan mempercayakan pada salah satu model sepatu North Star dari Bata yang tipis dan sirkulasi udaranya bagus, sehingga lebih aman dari bau. Intinya, kami mencoba membawa barang yang benar-benar diperlukan saja, dan menyisihkan barang yang sudah ada substitusinya, seperti mengenai memilih salah satu antara sandal dan sepatu tadi.

Kembali kepada pakaian, di Bangkok selama 4 hari 3 malam itu kami berpindah hotel setiap malam, dan selalu tiba malam karena mengikuti tur yang sudah dijadwalkan. Di sore hari pertama tiba di Bangkok, saya keliling di dekat hotel dan mendapati banyak laundry kiloan, namun apa dikata, kalau malam mereka sudah tutup, dan kemungkinan kecil mereka mau lembur untuk bisa diambil pagi sebelum jam 6, karena jam 7 kami sudah dijemput bus untuk menuju ke tempat-tempat wisata. Di hotel, staf yang standby tidak lebih dari 10 orang saja, mulai dari security, bell boy, resepsionis, dan room service. Petugas laundry juga diketahui sudah kembali ke rumah masuk ke dalam peraduan mimpinya. Selain itu, laundry di hotel menerapkan biaya yang nyaris sama dan bahkan lebih mahal dengan harga kaos dan celana yang mau dicuci ;)

Harga laundry Hotel Dynasty Bangkok

Solusinya? Lari ke 7 Eleven beli Rinso (saya yakin saja namanya Rinso, karena bungkusnya persis, hanya tulisannya menggunakan aksara Thailand, aromanya khas dan sama-sama produksi Unilever). Pakaian direndam dan dikucek pakai air panas dari wastafel di kamar mandi hotel. Ini dia penampakannya.

Rinso Thailand
Tinggal peras sampai bersih, dan di 'spin' menggunakan tangan dengan kecepatan layaknya latihan kung fu, maka baju menjadi setengah kering dan tinggal diangin-anginkan setengah malam di keringnya angin dari AC kamar hotel. Paginya, baju sudah siap untuk diseterika dan dipakai kembali. Tips lain yang bisa dilakukan adalah jika di hotel ada kulkas mini, taruh saja di belakangnya, maka akan lebih cepat kering karena hangat. Dalam rangkaian perjalanan ini, saya sempat menganginkan cucian kaos kaki di Singapura dengan hairdryer yang ada di hotel dan berhasil kering dalam waktu kurang dari 3 menit.

Demikianlah penyelesaian atas petualangan kami mencari jasa laundry kiloan di Bangkok yang mungkin bisa diterapkan juga di tempat lain dalam keadaan darurat.