Jumat, 19 Mei 2017

Perjalanan Ke Pulau Numfor Kabupaten Biak



Pulau Numfor adalah sebuah pulau yang terletak di barat pulau Biak Provinsi Papua. Pulau ini bisa ditempuh dari Biak dengan menggunakan speed boat selama 4 jam atau dengan pesawat Grand Caravan selama kurang lebih 40 menit.

Secara geografis, pulau Numfor lebih dekat ke Manokwari di Papua Barat. Itulah sebabnya sebagian kecil masyarakat di sini sempat mengusulkan agar pulau ini bergabung ke Papua Barat. Konon cerita mop (kelakar) masyarakat sini, pada jaman dahulu penentuan Pulau Numfor ikut Manokwari atau Biak ditentukan dengan pertandingan bola kaki (sepak bola), yang saat itu dimenangkan Biak, sehingga Pulau Numfor ikut Biak sampai dengan saat ini. Saat ini, Numfor sedang mengajukan untuk menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) setingkat kabupaten, namun karena masih ada moratorium pembentukan daerah baru dari Pemerintah Pusat, maka keinginan adanya DOB ini belum bisa terwujud.


Pada hari Kamis, 19 Mei 2017, saya berkesempatan mengikuti rombongan Gubernur Papua untuk melakukan kunjungan ke Pulau Numfor. Sama dengan Biak yang merupakan pulau karang, suhu di Pulau Numfor juga panas menyengat. Dalam kunjungan yang berdurasi 6 jam ini kami meninjau pembangunan PLTD di Numfor agar masyarakat bisa menikmati listrik selama 24 jam. Kami juga mengikuti peresmian RSUD tipe D yang diberi nama "Lukas Enembe" di Numfor.

Perjalanan singkat ini membawa kesan tersendiri karena saya belum pernah ke Numfor. Rombongan pun akhirnya pulang ke Biak pada pukul 15.00 WIT.

Minggu, 26 Maret 2017

Membuat Lagu Beep "Burung Kakatua" dengan Mikrotik

Baiklah, karena iseng di pagi hari, saya mencoba mengaransemen lagu dengan menggunakan perangkat Mikrotik RB951Ui-2HnD yang memiliki buzzer untuk mengeluarkan suara beep. Berikut ini adalah script-nya.
# Mikrotik beep song "Burung Kakatua"
# Wahyu Wijanarko - http://wahyu.com
:beep frequency=783.99 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=783.99 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=659.25 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=1046.50 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=659.25  length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=587.33 length=1000ms
:delay 2000ms;
:beep frequency=659.25 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=698.46 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=880.00 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=783.99 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=698.46 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=659.25 length=1000ms
:delay 2000ms;
:beep frequency=783.99 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=783.99 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=659.25 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=1046.50 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=659.25  length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=587.33 length=1000ms
:delay 2000ms;
:beep frequency=1046.50 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=987.77 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=783.99 length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=880.00 length=1000ms
:delay 1000ms;
:beep frequency=987.77  length=500ms
:delay 500ms;
:beep frequency=1046.50 length=1000ms
:delay 2000ms;

Rabu, 31 Agustus 2016

Menghitung Emisi Karbon dalam Transportasi Menggunakan Pesawat Terbang

Cetak e-Ticket Garuda Indonesia

Dalam perjalanan dari Surabaya ke Jayapura 30/8 kemarin, saya mengisi waktu dengan membaca teks yang ada di dalam tiket yang saya pegang. Selain harga tiket, di situ tercatat jumlah perkiraan emisi karbon menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-630 Bombardier CRJ-1000 per orang dalam perjalanan ini yaitu 256,69 kg per orang.

Berikut ini adalah simulasi yang saya gunakan dari website ICAO.

Emisi karbon pesawat terbang

Perjalanan menggunakan kendaraan dengan combustion engine (baca: mesin dengan bahan bakar hidrokarbon) adalah perjalanan yang menghamburkan emisi karbon. Katakanlah kita menanam pohon yang cukup besar untuk menampung karbondioksida yang kita buang ke alam dengan kapasitas serap 100 kg per tahun, maka dalam sekali perjalanan, saya harus menanam setidaknya 2-3 pohon agar siklus karbon di alam menjadi impas. Jika dalam 1 tahun saya melakukan perjalanan yang sama sebanyak 12 kali, bisa dipastikan saya wajib memiliki lahan yang cukup luas hanya untuk menampung pohon-pohon yang harus saya tanam.

Saya pernah punya pemikiran yaitu bagaimana jika ijin kepemilikan kendaraan bermotor, selain wajib memiliki garasi untuk tempat parkir, maka wajib juga untuk menanam pohon sesuai dengan emisi karbon yang akan dibuang oleh kendaraan tersebut. Jadi, jika tidak punya pohon untuk membantu menormalkan siklus karbon di alam, maka ijin kepemilikan kendaran bermotor tidak diberikan.