Minggu, 26 Juli 2009

Going to HTML5, Apa Masih Perlu Regulasi?

Ternyata main-main dengan regulasi juga dilakukan oleh masyarakat di dunia maya demi tercapaiya efisiensi. Lihat saja source code Google sudah melakukan potong sana potong sini, salah satunya menghilangkan tag </body></html> di bagian akhir halaman, karena ternyata dengan maupun tanpa tag tersebut halaman tetap dapat diakses secara sempurna oleh mayoritas browser. Hal ini menghemat sekitar 2% resource. Bagi saya mungkin kecil, namun dengan trafik masif seperti Google 2% adalah penghematan resource yang besar.

HTML5 memiliki beberapa perubahan, beberapa perbedaan dengan HTML 1.x dan XHTML adalah:

  • New parsing rules oriented towards flexible parsing and compatibility

  • New elements – section, article, footer, audio, video, progress, nav, meter, time, aside, canvas, datagrid

  • New types of form controls – dates and times, email, url, search
    New attributes – ping (on a and area), charset (on meta), async (on script)

  • Global attributes (that can be applied for every element) – id, tabindex, hidden

  • Deprecated elements dropped – center, font, strike



Google sendiri dari dulu tidak pernah menganut standarisasi secara ketat, karena scriptnya selalu error bila divalidasi. Namun tetap saja bisa diakses dengan baik.

Jadi, pilih validasi atau efisiensi?

Sumber:
http://www.sitepoint.com/blogs/2009/07/24/google-html5-and-standards/
http://www.w3.org/TR/html5/
http://en.wikipedia.org/wiki/HTML_5

Senin, 13 Juli 2009

Belajar dengan Jalan-Jalan di Mall

Belajar itu tidak mengenal tempat, dan tidak harus mengeluarkan uang yang banyak. Saya memiliki hobi utak-atik barang-barang mekanik dan aelektronik, termasuk komputer dan software. Tapi, saya juga punya hobi jalan-jalan. Selain untuk menyegarkan pikiran, jalan-jalan ternyata bisa membangun kreatifitas karena adanya kesempatan untuk melihat hal-hal baru yang mungkin selama ini tidak terpikirkan.

Ketika saya jalan-jalan ke supermarket, saya masuk ke toko perangkat melihat-lihat apakah ada peralatan yang belum saya miliki dan perlu untuk digunakan. Terkadang ada juga barang yang tidak saya perlukan saat itu namun karena sering jalan saya jadi tahu ada barang semacam itu. Misal saja kran bercabang, pompa ban mobil portabel, dan perangkat lain yang mungkin tidak pernah saya pikirkan.

Mengapa di mall? Karena di mall kita bisa masuk dan melihat-lihat barang walaupun akhirnya tidak beli sama sekali. Beda rasanya kalau ke toko bangunan biasa, kalau kita sering ke situ celingak-celinguk dan tidak beli apapun nanti bisa dikira akan merencanakan sesuatu kejahatan, kecuali kalau yang punya toko bangunan adalah temen sendiri, jadi bisa sambil silaturahmi. Makanya saya memilih untuk melihat-lihat di toko yang bernuansa supermarket atau swalayan, termasuk supermarket bangunan.

Mengapa ke toko buku? saya bisa melihat ide-ide yang tertuang di toko buku. Walaupun terkadang tidak membeli buku, namun dengan melihat sekilas mengenai judul buku dan ide dasar di dalamnya bisa menjadi bahan untuk brainstorming untuk memunculkan ide-ide yang lebih kreatif.

Mengapa ke dealer mobil? Walaupun seumur-umur saya belum eprnah beli mobil baru, namun dealer memberikan kesempatan kepada ktia untuk test driver kendaraan baru, mengapa tidak dicoba?

Dari pengamatan saya, istri yang sering jalan-jalan ke mall ternyata lebih sehat, karena gak kerasa mereka seharian berjalan sampai beberapa kilometer di mall, sedangkan suaminya hanya seharian duduk di kantor, dan akhirnya karena kelebihan lemak menjadi jantungan.

Kalau pas weekend keluarga Anda mengajak jalan-jalan ke mall, lakukanlah, karena selain sehat, sedikit atau banyak pasti akan ada ilmu yang diperoleh. Boleh juga jalan-jalan ke pasar Beringharjo untuk melatih kemampuan tawar menawar harga barang. Pasar tradisional juga tenpat belajar yang mantap, karena setelah sekian lama saya sering ke Beringharjo melakukan tawar menawar barang, sayapun mencoba menawar harga barang di mall, ternyata akhirnya kami dapat potongan harga dari yang punya toko. Jadi jangan segan-segan untuk menawar harga barang dimanapun jika memang dirasa perlu.

Selasa, 07 Juli 2009

Pemilu Damai 2009: Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Mengembalikan Jati Diri BangsaAkhirnya harinya telah tiba dimana kita memiliki hak untuk memilih pemimpin bangsa yang akan membawa bangsa Indonesia ke langkah berikutnya. Melalui pemilihan presiden 2009 ini diharapkan dapat menjadi sebiah titik tumpuan untuk mengembalikan jati diri bangsa.

Negara Indonesia bukanlah negara liberal, bukan negara komunis, namun sejak awalnya kita memiliki konsep sendiri yang dinamakan dengan ekonomi Pancasila. Hanya saja interpretasi terhadap ekonomi Pancasila ini yang sering melenceng sehingga menjadikan bangsa ini terjerembab ke dalam masalah ekonomi dan sosial.

Selain mengembalikan jati diri bangsa di bidang ekonomi, maka kita harus juga mengembalikan jati diri kita sebagai masyarakat sosial. Saat ini yang dinamakan gotong royong sudah semakin memudar karena semuanya dihitung dengan menggunakan satuan uang yang membuat orang mau bekerja jika ada reward berupa uang. Dengan mengembalikan semangat gotong-royong menjadi salah atu pilar sosial, maka bangsa ini akan semakin kompak dan kokoh.

Dengan mengembalikan jati diri bangsa, maka bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang memiliki prinsip sendiri yang tidak ikut-ikutan dengan prinsip bangsa lain. Dengan memiliki prinsip sendiri, di masa depan akan menjadikan bangsa ini akan semakin diakui dan disegani. Marilah kita memilih!

Halaman ini ditulis dalam rangka mengikuti SEO contest beritajitu.com